0

Terpinggirkannya umat Islam dalam pentas politik selama ini, lebih disebabkan karena umat tidak bersatu, para pemimpinnya lebih mengedepankan ego pribadi dan kelompok ketimbang kepentingan izzah Islam dan kaum Muslimin.



“SHAWU... Shawwu... “ demikian biasanya Imam Shalat di Masjid Haram mengingatkan para makmum jamaah sholat untuk merapatkan dan merapikan barisan (shaf). Sesuai sabda Nabi Saw, sesungguhnya kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah.



Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah saw akan mengimami shalat berjamaah. Sebelum bertakbir beliau meratakan shaf para sahabatnya sebagaimana barisan tentara. Ketika akan mulai bertakbir, tiba-tiba ada seorang makmum yang dadanya lebih maju dari yang lainnya. Melihat hal itu beliau bersabda,



"Hai hamba Allah, harus kamu ratakan barisan kamu atau Allah akan membuat hatimu saling berselisih" (HR Abu Dawud).



Selain rata, Nabi Saw juga memerintahkan para makmum untuk merapatkan barisan mereka.



"Jangan kalian biarkan ada celah renggang di tengah barisan untuk jalannya syaitan".



"Rapatkan barisan kamu, karena demi Allah, sesungguhnya aku melihat syaitan masuk ke sela-sela barisan shalat".



Shalat berjamaah merupakan cermin kesatuan umat Islam. Ketika melaksanakan shalat, visi dan misi mereka satu, yakni penghambaan total kepada Allah Swt. dan menggapai mardhotillah. Ketaatan kepada pemimpin pun tercermin dalam shalat berjamaah. Tidak peduli dari firqoh mana sang imam, komandonya tetap diikuti para makmum. Perbedaan firqoh, ormas, parpol, atau kepentingan duniawi, lebur dalam kesamaan visi dan misi beribadah kepada Allah Swt.



Begitulah semestinya umat Islam. Bersatu-pada dalam satu visi dan misi. Gambaran kerataan dan kerapatan shaf shalat mencerminkan setidaknya dua hal.



Pertama, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada orang yang merasa paling hebat atau unggul, sehingga ingin menonjol di antara jamaah. Nabi Saw menyebutkan, jika dalam barisan umat ada yang berdiri “lebih maju” ketimbang yang lain, itu akan menyebabkan perselisihan. Cukup satu orang saja, yakni imam (pemimpin) yang berdiri paling depan di antara jamaah, karena ia memegang komando.



Perselisihan di antara umat Islam kerap terjadi karena ada orang melangkah sendirian, meninggalkan barisan umat, untuk mengejar kepentingan pribadi. Ia mengesampingkan kepentingan jamaah umat Islam secara keseluruhan. Bahkan, ia membentuk gerbong sendiri untuk menunjukkan keunggulannya.



Kedua, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada celah sedikit pun yang memberi peluang masuknya setan ke celah itu. Jika terjadi gap di antara barisan umat, maka setan akan menggoda manusia untuk berselisih, lalu berpecah-belah.



Artinya, umat Islam harus terus merapatkan barisan, mengikat kuat-kuat tali ukhuwah Islamiyah, sehingga tidak ada peluang bagi musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba dan memecah-belah kekuatan umat Islam.



PERSELISIHAN di antara umat Islam merupakan sumber kebinasaan kaum Muslimin. Dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw pernah mengabarkan bahwa beliau memohon kepada Allah SWT agar umatnya tidak binasa karena kekurangan pangan (kelaparan yang mewabah), serta agar umatnya tidak binasa karena serangan musuh dari luar Islam. Allah SWT mengabulkan permohonan itu.



“Wahai Muhammad... Aku memberi umatmu agar mereka tidak binasa akibat kelaparan yang mewabah serta musuh dari luar, sekalipun musuh-musuh umatmu itu berkumpul dari berbagai penjuru, sehingga sebagian umatmu menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mencaci yang lain” (HR Muslim).



Dalam hadits tadi jelas tergambar, umat Islam hanya akan binasa akibat perpecahan di antara mereka sendiri. Jamaah umat Islam akan lemah dan hancur akibat permusuhan dan saling caci di antara mereka sendiri.



Tidak heran jika hingga kini musuh-musuh Islam terus menjanalkan strategi jitu mereka untuk menguasai umat Islam, yakni pecah-belah dan kuasai (devide et impera). Orientalis kondang Snouck Hurgrounje dalam sebuah memorandumnya mengatakan:



“Tidak ada gunanya kita memerangi kaum Muslimin atau berkonfrontasi untuk menghancurkan Islam dengan senjata. Itu semua bisa kita lakukan dengan mengadu-domba antara mereka dari dalam dengan menanamkan perselisihan agama, pemikiran, dan madzhab...”



Maka, umat Islam mesti waspada. Kedepankan persamaan di antara kita, benamkan sekuat mungkin perbedaan yang tidak prinsipil. Tanamkan selalu prasangka baik dan kasing-sayang terhadap sesama Muslim, agar persatuan umat tetap terpelihara, sehingga tidak ada celah bagi musuh-musuh Allah mengadu-domba dan memprovokasi perselisihan di antara umat Islam sendiri. Jangan terpancing untuk mencela sesama Muslim, karena itu akan menjadi benih perpecahan dan dimanfaatkan musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba umat Islam. (Abu Faiz).*warnaislam.com





Dikirim pada 31 Oktober 2009 di Tazkiyatun Nafs

Mengenakan niqab (cadar) bagi muslimah bagian dari syariat Islam. Hanya saja hukum wajibnya masih diperselisihkan. Namun, yang pasti ada dasar dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengindikasikannya. Mengingkarinya keberadaannya sama dengan mengingkari bagian dari syariat Islam. Berikut ini sambungan dari tulisan pertama tentang hukum mengenakan cadar bagi muslimah yang menunjukkan wajibnya. . . .



Kedelapan, firman Allah Ta’ala:



ู„ุงู‘ูŽ ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ูููŠ ุกูŽุงุจูŽุขุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุข ุฃูŽุจู’ู†ูŽุขุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุข ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุข ุฃูŽุจู’ู†ูŽุขุกู ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุข ุฃูŽุจู’ู†ูŽุขุกู ุฃูŽุฎูŽูˆูŽุงุชูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู†ูุณูŽุขุฆูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ู…ูŽุงู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููŠู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽู‰ู’ุกู ุดูŽู‡ููŠุฏู‹ุง



“Tidak ada dosa atas istri-istri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 55)



Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi wajahnya.



Kesembilan, firman Allah:



ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู…ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุชูŽุงุนู‹ุง ููŽุณู’ุฆูŽู„ููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู† ูˆูŽุฑูŽุขุกู ุญูุฌูŽุงุจู ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฃูŽุทู’ู‡ูŽุฑู ู„ูู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ



“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53).



Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semua wanita mukmin.



Setelah turunnya ayat ini maka Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).



Kesepuluh, firman Allah Ta’ala:



ูŠูŽุงู†ูุณูŽุขุกูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู„ูŽุณู’ุชูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุฃูŽุญูŽุฏู ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุขุกู ุฅูู†ู ุงุชู‘ูŽู‚ูŽูŠู’ุชูู†ู‘ูŽ ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุฎู’ุถูŽุนู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ููŽูŠูŽุทู’ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ู…ูŽุฑูŽุถูŒ ูˆูŽู‚ูู„ู’ู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ุงู‹ ู…ู‘ูŽุนู’ุฑููˆูู‹ุง {32} ูˆูŽู‚ูŽุฑู’ู†ูŽ ูููŠ ุจููŠููˆุชููƒูู†ู‘ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽุชูŽุจูŽุฑู‘ูŽุฌู’ู†ูŽ ุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽ ุงู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠู‘ูŽุฉู ุงู’ู„ุฃููˆู’ู„ูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽู‚ูู…ู’ู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุกูŽุงุชููŠู†ูŽ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุฃูŽุทูุนู’ู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู„ู‡ู ู„ููŠูุฐู’ู‡ูุจูŽ ุนูŽู†ูƒูู…ู ุงู„ุฑู‘ูุฌู’ุณูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ูˆูŽูŠูุทูŽู‡ู‘ูุฑูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุทู’ู‡ููŠุฑู‹ุง



“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 32-33).



Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi:



1. Firman Allah: “Janganlah kamu tunduk dalam berbicara” adalah larangan Allah terhadap wanita untuk berbicara secara lembut dan merdu kepada laki-laki. Karena hal itu akan membangkitkan syahwat zina laki-laki yang diajak bicara. Tetapi seorang wanita haruslah berbicara sesuai kebutuhan dengan tanpa memerdukan suaranya. Larangan ini merupakan sebab-sebab untuk menjaga kemaluan, dan hal itu tidak akan sempurna kecuali dengan hijab.



2. Firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” merupakan perintah bagi wanita untuk selalu berada di dalam rumah, menetap dan merasa tenang di dalamnya. Maka hal ini sebagai perintah untuk menutupi badan wanita di dalam rumah dari laki-laki asing.



3. Firman Allah: “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” adalah larangan terhadap wanita dari banyak keluar dengan berhias, memakai minyak wangi dan menampakkan perhiasan dan keindahan, termasuk menampakkan wajah.



Bersambung . . . . (Insya Allah)



* Tulisan Ustadz Kholid Syamhudi, Lc., dengan sedikit perubahan.



* Sumber: www.muslimah.or.id



Dikirim pada 28 Oktober 2009 di Dakwah

Dalam masalah cadar, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan. Maka di sini -insya Allah- akan disampaikan hujjah masing-masing pendapat itu, sehingga masing-masing pihak dapat mengetahui hujjah (argumen) pihak yang lain, agar saling memahami pendapat yang lain.



Dalil yang Mewajibkan



Pertama, firman Allah Ta’ala:



ูˆูŽู‚ูู„ ู„ู‘ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบู’ุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ



“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31)



Perintah memelihara kemaluan mencakup perintah melaksanakan sarana untuk memeliharanya. Dan menutup wajah bagian sarana tersebut, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).



Kedua, firman Allah Ta’ala:



ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุฏููŠู†ูŽ ุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง



“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)



Ibnu Mas’ud rahimahullah berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi, Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/486). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.



Ketiga, firman Allah Ta’ala:



ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฎูู…ูุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌููŠููˆุจูู‡ูู†ู‘ูŽ



“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)



Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah?. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).



Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:



ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุถู’ุฑูุจู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽุฑู’ุฌูู„ูู‡ูู†ู‘ูŽ ู„ููŠูุนู’ู„ูŽู…ูŽ ู…ูŽุงูŠูุฎู’ูููŠู†ูŽ ู…ูู† ุฒููŠู†ูŽุชูู‡ูู†ู‘ูŽ



“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)



Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup guna menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).



Kelima, firman Allah Ta’ala:



ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽูˆูŽุงุนูุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุขุกู ุงู„ุงู‘ูŽุชููŠ ู„ุงูŽูŠูŽุฑู’ุฌููˆู†ูŽ ู†ููƒูŽุงุญู‹ุง ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุฌูู†ูŽุงุญูŒ ุฃูŽู† ูŠูŽุถูŽุนู’ู†ูŽ ุซููŠูŽุงุจูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽุงุชู ุจูุฒููŠู†ูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽู† ูŠูŽุณู’ุชูŽุนู’ูููู’ู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ



“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)



Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 10, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).



Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas radliyallah ’anhuma berkata tentang firman Allah “Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur:60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/523).



Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini -- yaitu dia menutupi wajah dengannya-- Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,



ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽูˆูŽุงุนูุฏู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุขุกู ุงู„ุงู‘ูŽุชููŠ ู„ุงูŽูŠูŽุฑู’ุฌููˆู†ูŽ ู†ููƒูŽุงุญู‹ุง ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ุฌูู†ูŽุงุญูŒ ุฃูŽู† ูŠูŽุถูŽุนู’ู†ูŽ ุซููŠูŽุงุจูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽุงุชู ุจูุฒููŠู†ูŽุฉู



“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)



Yang dimaksud pakaian adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:



ูˆูŽุฃูŽู† ูŠูŽุณู’ุชูŽุนู’ูููู’ู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ



“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60).



Dia mengatakan, “Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/524).



Keenam, firman Allah Ta’ala: ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุชูŽุจูŽุฑู‘ูุฌูŽุงุชู ุจูุฒููŠู†ูŽุฉู “Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60).



Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).



Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:



ูŠูŽุขุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ู‚ูู„ ู„ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌููƒูŽ ูˆูŽุจูŽู†ูŽุงุชููƒูŽ ูˆูŽู†ูุณูŽุขุกู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูู† ุฌูŽู„ุงูŽุจููŠุจูู‡ูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฏู’ู†ูŽู‰ ุฃูŽู† ูŠูุนู’ุฑูŽูู’ู†ูŽ ููŽู„ุงูŽ ูŠูุคู’ุฐูŽูŠู’ู†ูŽ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู‹ุง



“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)



Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.” (Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan bahwa perawi riwayat ini dari Ibnu Abbas adalah Ali bin Abi Thalhah yang tidak mendengar dari ibnu Abbas. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/513).



Qatadah berkata tentang firman Allah ini (QS. Al Ahzab: 59), “Allah memerintahkan para wanita, jika mereka keluar (rumah) agar menutupi alis mereka, sehingga mereka mudah dikenali dan tidak diganggu.” (Riwayat Ibnu Jarir, dihasankan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/514).



Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Wanita itu mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, tetapi tidak menutupinya.” (Riwayat Abu Dawud, Syaikh Mushthafa Al-Adawi menyatakan: Hasan Shahih. Lihat Jami’ Ahkamin Nisa IV/514).



Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya mempraktekkan cara mengulurkan jilbab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas (kepala) sehingga dekat ke alisnya, atau di atas alis. (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa IV/513).



As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.” (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 51, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).



Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:

1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.



2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut ูŠูุฏู’ู†ููŠู†ูŽ -ed) yang ditambahkan huruf (ุนูŽู„ูŽูŠ) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.



3. Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.



4. Dalam firman Allah: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum muslimin. Sedangkan dalam ayat ini istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.



5. Dalam firman Allah: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu. (Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 52-56, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).



Bersambung . . . . (Insya Allah)



* Tulisan Ustadz Kholid Syamhudi, Lc., dengan sedikit perubahan.



* Sumber: www.muslimah.or.id





Dikirim pada 28 Oktober 2009 di Dakwah

Bismillah, Segala puji untuk Allah, shalawat dan salam semoga tercurah untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau.



Sebagaimana diharamkannya zina dalam al-Qur’an, Allah juga mengharamkan sebab-sebab dan sarana yang menghantarkannya. Firman Allah Ta’ala:



ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู‚ู’ุฑูŽุจููˆุง ุงู„ุฒู‘ูู†ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ููŽุงุญูุดูŽุฉู‹ ูˆูŽุณูŽุงุกูŽ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง



"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. al-Isra’: 32).



Khalwat adalah jalan syetan untuk menggoda manusia dan menjerumuskannya ke dalam perzinahan. Syariat Islam telah menutup jalan ini dan menghalanginya sehingga orang Islam aman darinya.



Khalwat adalah jalan syetan untuk menggoda manusia dan menjerumuskannya ke dalam perzinahan.



Peringatan tentang bahaya zina terdapat dalam sunan at-Tirmidzi, diriwayatkan dari ’Uqbah bin ’Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menemui wanita dalam rumahnya (sendirian)". Seorang laki-laki Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan ipar (bolehkah dia masuk menemui wanita, istri saudaranya)?." Beliau menjawab: “Ipar (saudara suami) adalah kematian." (Yakni: lebih berbahaya dari orang lain). (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).



Makna larangan menemui wanita sendirian di rumahnya seperti sabda Nabi SAW,



ู„ุงูŽ ูŠูŽุฎู’ู„ููˆูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุจูุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุซูŽุงู„ูุซูŽู‡ูู…ูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู



"Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali syetan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).



Khalwat (khalwah), secara bahasa artinya sepi, kosong, dan sendiri. Seperti kalimat, "seorang laki-laki berkhalwat dengan kawannya," maknanya dia menyendiri dengan kawannya tadi.



"Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali syetan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).



Dalam masalah khalwat ini, wanita ada dua macam. Pertama, wanita yang boleh berduaan dengannya, yaitu wanita yang mahram abadi bagi seorang laki-laki, seperti ibu, saudari kandung, anak perempuan kandung, bibi dari pihak bapak, bibi dari pihak ibu, mertua, ibu susuan, saudari sesusuan, atau istrinya. Pada zaman dulu ada budak wanita, bagi sang tuan boleh berduaan dengannya.



Kedua, wanita yang tidak boleh berduaan dengannya, yaitu semua wanita yang haram dinikahi sementara, seperti ipar dan wanita ajnabiyah (wanita asing, yaitu yang tidak memiliki hubungan mahram nasab, susuan, dan tidak memiliki ikatan perkawinan).



Berduaan (bersepi-sepi) dengan wanita asing hukumnya haram. Seluruh ulama sudah sepakat, "seorang laki-laki tidak boleh berkhalwat dengan wanita yang bukan mahram dan bukan istrinya, yaitu wanita ajnabiyab Karena syetan akan menggoda keduanya ketika berkhalwat untuk melakukan sesuatu yang haram." Para ulama juga mengatakan, "jika seorang laki mengimami wanita ajnabiyyah sendirian, hal ini haram bagi keduanya." (al-mausuah al-fiqhiyah al-kuwaitiyyah).



Apa hikmah larang khalwat? Lalu apa saja batasan khalwat yang dibolehkan syariat? Bagaimana jika berkhalwat dengan anak kecil? Apa saja fatwa ulama berkaitan masalah ini? dapat diikuti dalam tulisan berikutnya, Insya Allah. (PurWD/voa-islam)



Dikirim pada 28 Oktober 2009 di Dakwah
Awal « 1 2 3 4 » Akhir
Profile

Easy Going More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.065.675 kali


connect with ABATASA