0
Dikirim pada 29 September 2009 di Hiburan

 Alkisah ada seorang laki-laki gila yang telanjang bulat suka mondar-mandir dekat daerah rumah saya. Wajahnya lumayan sehingga malah menjadi pertanyaan bagi orang-orang, kenapa dia bisa menjadi gila seperti itu? Tapi namanya juga orang gila, susahlah bagi kita untuk menanyakan hal itu.

Orang-orang di sekitar daerah saya pada kesian sebetulnya melihat tingkah laku orang gila tersebut. Sementara saya malah kagum dengan si orang gila, karena dia hampir ngga pernah keliatan sakit. Walau hujan panas, tetep ngotot ngga mau pake baju.

Dan hebatnya, si orang gila ini rupanya masih ngerti soal makan. Udah gitu, makannya ada jadwalnya khusus. Jadi kalau belum waktunya dia makan, walau kita paksa-paksa untuk makan, dia akan menolak pemberian. Bahkan bisa jadi dia jadi marah-marah, berteriak-teriak sumpah serapah.

Nah, bila pas waktunya makan, maka si orang gila juga punya tempat-tempat khusus. Maksudnya, warung-warung makanan yang cukup banyak ada di daerah saya, itu satu persatu digilir oleh dia. Hari ini ini di warteg depan gang, besok di warung sate, besok tempat mie goreng dan besoknya lagi warung bakso. Begitu terus tiap warung kebagian jatah satu hari untuk memberinya dia makan.

Sebenarnya para pemilik warung itu senang-senang saja memberikan dia makan. Toh sebagai timbal balik, si orang gila rajin ronda mengawasi warung-warung itu sampai pagi. Bila ada yang coba-coba mendekati, si orang gila langsung berteriak-teriak mengancam atau kalau tetap nekat, bisa-bisa dikejar sama si orang gila itu.

Cuma karena si orang gila ini tidak mau pakai baju dan badannya bau, hal itu menimbulkan keresahan dalam hati para pemilik warung dan juga orang-orang di sekelilingnya. Mereka kesian dengan kondisi si orang gila, tapi dasar orang gila, dia tidak peduli dengan keadaan dirinya.

Suatu ketika ada orang yang memberikan orang gila itu celana. Yah, untuk menutupi ’kemaluannya’. Karena namanya juga orang gila, dia tidak malu dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tapi justru orang-orang yang berada di sekitar si orang gila itu yang risih melihat si orang gila kemana-mana lebih telanjang dari tarzan. Lagi pula keberadaan dia yang tanpa baju bagi beberapa orang yang ’punya hati nurani’ dianggap memalukan lingkungan.

Nah, saya termasuk orang yang pernah berusaha memberikan dia baju. Tapi apa yang terjadi? Baju itu dirobek-robek lalu digulung-gulung kemudian dijadikan bantal! Yah, apa mau dikata? Niat kita sih baik agar dia mau menutupi kemaluannya sendiri tapi rupanya dia sendiri yang malah marah dan tetap mengumbar.

Akhirnya ada seseorang yang memberikan sarung. Kebetulan yang memberikan adalah tetangga dekat rumah saya yang memang berparas cantik dan dia biasa naik turun mobil mewah. Pokoknya cewek idaman lah, karena selain cantik juga kaya.

Eh, lucunya si orang gila itu mau diberikan sarung oleh si cewek ini. Sarung yang diberikan dipakainya di dada seperti orang Bali pakai sarung. Siang malam sarung yang berwarna merah marun kotak-kotak itu melekat di badannya. Dan dia tidur berbantalkan baju pemberian saya.

Oh iya, celana yang diberikan orang sebelumnya itu dibuang di tong sampah. Entah kenapa begitu, karena si orang gila itu sampai sekarang belum pernah memberikan keterangan resmi kepada saya mengapanya.

 



Dikirim pada 29 September 2009 di Hiburan
comments powered by Disqus
Profile

Easy Going More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.158.755 kali


connect with ABATASA