close
close
0
Dikirim pada 06 Desember 2009 di Uncategories

 Sholat merupakan sarana seorang hamba melakukan perbaikan rohani dengan Allah SWT, dengan perbaikan rohani tersebut diharapkan manusia mampu untuk merekontruski kahidupan pribadi, keluarga, dan social kearah yang positif. Namun sayang kedahsyatan ibadah sholat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia tidak mampu dilakukan dengan senang hati tetapi malah menjadikan sebuah beban yang berat dalam hidupnya. Sering kita jumpai dalam pergaulan sesama umat islam adanya kata-kata kurang sreg ketika mendegarkan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin.
Melihat fenomena tersebut seorang pemikir Islam ‘Imad ‘Ali ‘Abdus Sami’ Husain Doktor Bidang Dakwah dan Tsaqofah Islamiyah Universitas Al-Ahzar Kairo, menulis buku dengan judul Keajaiban Sholat Subuh: Menguak Misteri Kemuliaan dalam Sholat Subuh.
Dalam tulisan ini beliau mengungkapkan bahwa ada banyak manfaat yang bisa diperoleh ketika melakukan ibadah sholat terutama sholat subuh;
Pertama, Terapi Jiwa, Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Batas antara kita dengan orang-orang munafik adalah menghadiri sholat isyak dan subuh, sebab orang-orang munafik tidak sanggup menghadiri kedua sholat tersebut” (Muwattho’ Imam Malik). “Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak” (HR. Ahmad).
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA., ia berkata, “Kami melaksanakan sholat Subuh berjamaah bersama Nabi SAW, dan tidak ada yang tidak ikut serta selain orang yang sudah jelan kemunafikannya”.
Dari beberapa riwayat diatas memberi peringatan kepada kita bahwa manfaat yang pertama dari sholat subuh adalah membersihkan jiwa kita dari sifat munafik, karena munafik merupakan salah satu kategori manusia disebut sakit jiwanya.
Orang munafik adalah seorang yang dalam hidupnya selalu senantiasa mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, ia memiliki dua wajah (kiblat), kiblat yang positif dan kiblat yang negative. Kadangkala dalam hatinya ingin berbuat baik baik tetapi jiwa, pikiran dan fisiknya tidak mampu untuk menyambut kemuan hati tersebut. Sehingga orang munafik dalam hidupnya selalu dalam keadaan jiwa yang gelisah. Jiwanya tidak merasa tenang maupun tentram, yang ada di benaknya adalah keragu-raguan, malas, putus asa, patah semangat, mencari muka dan selamat hanya untuk dirinya sendiri. Yang dikeluarkan dari mulutnya adalah ucapan-ucapan hanya untuk cari muka, aktifitas yang dilakukan hanya dalam rangka untuk membuat pimpinan senang.
Sholat subuh yang diperintahkan Allah SWT kepada umat muslim merupakan terapi ruhani untuk menyucikan jiwanya dari penyakit munafik tersebut, sehingga kita menjadi manusia yang bermanfaat hidupnya baik di dunia maupun di akherat, baik di bumi maupun di langit.
Kedua, Terapi Aqal, sebagaimana firman-Nya:
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan malam bila berlalu Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Fajr, 89: 1-5)
Penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutub RA.) berkata setelah menyebutkan ayat-ayat ini, “Ayat-ayat ini bukan sekedar kata-kata dan lafazh, ia adalah nafas-nafas yang terkandung dalam waktu fajar, dan titik-titik embun yang bercampur dengan wewangian, seruan keselamatan yang melegakan hati, bisikan lembut untuk ruh, sentuhan yang diarahkan kepada hati, itulah udara fajar, udara yang familiar dan sangat menyenangkan, disaat spirit ibadah yang khusyuk bertemu dengan nafas alam yang tenang, di saat ruh-ruh yang tunduk beribadah dan ruh-ruh malam hari pilihan serta ruh fajar yang indah saling memberikan respon. Waktu fajar, yang merupakan saat-saat kehidupan mulai bernafas dalam kemudahan, kegembiraan, senyuman, keakraban, kecintaan, dan kerelaan hati. Saat dimana alam yang tertidur mulai bangun pelan-pelan seolah-olah nafasnya saling berbisik, dan seolah suasana merekahnya adalah do’a.
Waktu fajar merupakan kondisi yang menyehatkan, karena pada waktu itu tumbuh-tumbuhan sedang mengeluarkan oksigen yang masih bersih yang sangat bermanfaat bagi kehidupan (manusia). Oksigen tersebut yang akan menyegarkan tubuh. Selain itu dengan menghirup udara yang masih bersih dan segar akan menjadikan otak menjadi fresh, dengan kondisi otak yang segar seseorang akan mampu untuk berfikir yang jernih dan mampu memanaj kegiatan pada hari tersebut. Begitu juga sebaliknya apabila waktu fajar belum melakukan sholat subuh (sampai subuhnya kesiangan), maka akan mengakibatkan tubuh menjadi lelah dan capek, pikiran suntuk jiwa tidak tenang yang akan membawa akibat kepada kacau-balau agenda kegiatan pada hari itu.
Ketiga, terapi finasial, seorang hamba, walau sezuhud apapun dan sangat tidak peduli dengan urusan dunia, ia tetap senang kalau lapang rezekinya. Minimal mencukupi kebutuhan diri sendiri, untuk menyelamatkan muka dari hinanya meninta-meminta. Dan demi Allah, untuk mencapai ini jalannya adalah dengan menaati Allah.
Pernah suatu ketika Nabi SAW sholat Subuh, begitu selesai beliau pun kembali ke rumah dan mendapati putrinya, Fathimah, sedang tidur. Maka beliaupun membalikkan tubuh Fathimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya, “Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Robbmu, karena Allah SWT membagi-bagikan rezeki para hamba antara sholat Subuh dan terbitnya matahari” (HR. Mundziri).
Ini bukan berarti orang yang pergi melaksanakan sholat Subuh pasti pulang dengan kantong penuh uang,--seperti asumsi para penyembah dunia dan budak uang--, atau seperti dikatakan orang-orang yang suka mempermainkan bahwa setelah matahari terbit berarti terputus sudahlah rezeki! Bukan sama sekali bukan. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ketaatan kepada Allah SWT dengan cara menjaga untuk terus ikut dalam sholat Subuh berjamaah secara konsisten, akan mendatangkan taufik dari Allah SWT, sehingga nantinya seorang hamba memperoleh keridloan dan kelurusan dari Rabbnya, yang pada gilirannya ia akan menghabiskan sisa harinya dalam pertolongan dan kemudahan dari Allah dalam urusan-urusannya.
Memang benar, taat kepada Allah SWT sudah cukup menjadi jaminan kantong ini pasti terisi penuh dengan uang. Bagaimana tidak, sementara Allah sendiri telah berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. ATh-Tholaq, 65: 2-3).
 

Akhir-akhir ini, betapa banyak manusia yang tidak menjaga adab dengan baik terhadap Allah SWT, Sang Pencipta, padahal penyebabnya adalah kemalasan mereka sendiri. Misalnya, seseorang pergi utnuk menyelesaikan salah satu urusannya, tetapi kebutulan tidak berjalan dengan baik, maka tiba-tiba saja ia memaki hari, mengkabinghitamkan ini dan itu tanpa mau mengoreksi kekurangan yang ada pada dirinya.
Allah SWT memberitahukan kepada kita bahwa rezeki bias bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Firman-Nya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-‘Arof, 7: 96).
Firman-Nya yang lain:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. diantara mereka ada golongan yang pertengahan. dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” (QS. Al-Maidah, 5: 66).
Nabi Muhammad SAW, Sang Nabi yang jujur dan terpercaya, mengabarkan kepada kita kalau Allah telah mewahyukan kepada beliau bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai ia habiskan jatah rezekinya, setelah itu beliau perintahkan kita dengan sabdanya, “Maka bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah cara mencari rezeki. Jika rezeki salah seorang dari kalian lambat, maka janganlah ia mengejarnya dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah, karena anugerah Alla tidak dicapai dengan maskiat” (HR. Hakim).
Adapun para pencari akhirat, mereka memiliki anggapan berbeda kaitannya dengan rezeki yang ada di anatara sholat Subuh hingga terbitnya matahari. Mereka melihat diberikannya taufik untuk bisak sholat Subuh saja sudah merupakan rezeki terbesar. Kalau setelah itu ia diberi kemudahan untuk berdzikir setelah sholat Subuh hingga terbitnya matahari, berarti Allah telah memberikan rezeki terbaik kepadanya.
Hari ini, banyak sekali orang yang memperbincangkan produktivitas kerja dan program-program untuk memacu diri kepada kemajuan dan peradaban. Demi Allah produktivitas tidak mungkin bisa diraih oleh seseorang apabila tidak diawali dengan sholat subuh, karena pada waktu subuh sampai terbitnya matahari itulah Allah membagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya. Seorang manusia yang taat kepada Allah serta taat menjalankan sholat yang telah diperintahkan maka yakinlah bahwa kehidupan di dunia pasti akan terjamin. Begitu pula sebaliknya apabila seseorang lalai atau sampai lupa melakukan sholat subuh maka tunggullah kefaqiran yang akan menghimpit kehidupannya.
 



Dikirim pada 06 Desember 2009 di Uncategories
comments powered by Disqus
Profile

Easy Going More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 737.787 kali


connect with ABATASA