0

Metroseksual mengacu pada kaum pria yang tak malu tampil necis dan merawat diri. Kini, muncul istilah baru bernama metrotekstual. Konon salah satu cirinya adalah gemar berciuman via SMS.



Generasi pria yang tak malu mencium teman bicaranya, meski sekadar lewat pesan SMS, itu disebut mulai marak di Inggris. Saling mencium lewat SMS, yang ditandai dengan huruf ’x’ kecil di akhir pesan, dilakukan para pria meskipun saat bertukar pesan dengan sesama pria.



Seperti dikutip detikINET dari Reuters, Rabu (4/11/2009), ini merupakan hasil riset yang dilakukan operator telekomunikasi Inggris T-Mobile. Disebutkan ada sekitar 22 persen pria yang termasuk golongan ’metrotekstual’ ini.



Penyebaran tersebar pria-pria penebar ciuman ini adalah pada kategori usia 18-24 tahun. Di kelompok usia itu, sebanyak 75 persen melakukannya secara rutin, sedangkan 48 persen mengakui bahwa praktek tebar ciuman itu sudah wajar di antara teman-temannya.



Lebih lanjut, sekitar 23 persen pria dari kelompok usia tersebut menyukai jika ada ’x’ pada pesan yang mereka terima. Meskipun pesan itu tidak berasal dari seseorang yang mereka kenal dekat.



Dalam mencium temannya, pria-pria ’metrotekstual’ ini lebih suka menggunakan huruf x kecil (52 persen). Hanya 17 persen yang menggunakan X besar dan lebih sedikit lagiyang menggunakan ciuman beruntun ’xxx’.



Psikolog Ron Bracey mengatakan pada Reuters perkembangan teknologi telah membuka kesempatan bagi pria untuk lebih vulgar menyampaikan emosi mereka. "Komunikasi non-verbal, akibat perkembangan ponsel dan jejaring sosial, membuat pria lebih mudah berbagi perasaan mereka pada orang lain --terutama sesama pria," ujar Bracey. ( wsh / wsh )


Dikirim pada 06 November 2009 di Hiburan

Alkisah ada seorang laki-laki gila yang telanjang bulat suka mondar-mandir dekat daerah rumah saya. Wajahnya lumayan sehingga malah menjadi pertanyaan bagi orang-orang, kenapa dia bisa menjadi gila seperti itu? Tapi namanya juga orang gila, susahlah bagi kita untuk menanyakan hal itu.



Orang-orang di sekitar daerah saya pada kesian sebetulnya melihat tingkah laku orang gila tersebut. Sementara saya malah kagum dengan si orang gila, karena dia hampir ngga pernah keliatan sakit. Walau hujan panas, tetep ngotot ngga mau pake baju.



Dan hebatnya, si orang gila ini rupanya masih ngerti soal makan. Udah gitu, makannya ada jadwalnya khusus. Jadi kalau belum waktunya dia makan, walau kita paksa-paksa untuk makan, dia akan menolak pemberian. Bahkan bisa jadi dia jadi marah-marah, berteriak-teriak sumpah serapah.



Nah, bila pas waktunya makan, maka si orang gila juga punya tempat-tempat khusus. Maksudnya, warung-warung makanan yang cukup banyak ada di daerah saya, itu satu persatu digilir oleh dia. Hari ini ini di warteg depan gang, besok di warung sate, besok tempat mie goreng dan besoknya lagi warung bakso. Begitu terus tiap warung kebagian jatah satu hari untuk memberinya dia makan.



Sebenarnya para pemilik warung itu senang-senang saja memberikan dia makan. Toh sebagai timbal balik, si orang gila rajin ronda mengawasi warung-warung itu sampai pagi. Bila ada yang coba-coba mendekati, si orang gila langsung berteriak-teriak mengancam atau kalau tetap nekat, bisa-bisa dikejar sama si orang gila itu.



Cuma karena si orang gila ini tidak mau pakai baju dan badannya bau, hal itu menimbulkan keresahan dalam hati para pemilik warung dan juga orang-orang di sekelilingnya. Mereka kesian dengan kondisi si orang gila, tapi dasar orang gila, dia tidak peduli dengan keadaan dirinya.



Suatu ketika ada orang yang memberikan orang gila itu celana. Yah, untuk menutupi ’kemaluannya’. Karena namanya juga orang gila, dia tidak malu dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tapi justru orang-orang yang berada di sekitar si orang gila itu yang risih melihat si orang gila kemana-mana lebih telanjang dari tarzan. Lagi pula keberadaan dia yang tanpa baju bagi beberapa orang yang ’punya hati nurani’ dianggap memalukan lingkungan.



Nah, saya termasuk orang yang pernah berusaha memberikan dia baju. Tapi apa yang terjadi? Baju itu dirobek-robek lalu digulung-gulung kemudian dijadikan bantal! Yah, apa mau dikata? Niat kita sih baik agar dia mau menutupi kemaluannya sendiri tapi rupanya dia sendiri yang malah marah dan tetap mengumbar.



Akhirnya ada seseorang yang memberikan sarung. Kebetulan yang memberikan adalah tetangga dekat rumah saya yang memang berparas cantik dan dia biasa naik turun mobil mewah. Pokoknya cewek idaman lah, karena selain cantik juga kaya.



Eh, lucunya si orang gila itu mau diberikan sarung oleh si cewek ini. Sarung yang diberikan dipakainya di dada seperti orang Bali pakai sarung. Siang malam sarung yang berwarna merah marun kotak-kotak itu melekat di badannya. Dan dia tidur berbantalkan baju pemberian saya.



Oh iya, celana yang diberikan orang sebelumnya itu dibuang di tong sampah. Entah kenapa begitu, karena si orang gila itu sampai sekarang belum pernah memberikan keterangan resmi kepada saya mengapanya.




Dikirim pada 29 September 2009 di Hiburan

Namanya Agus Supriadi. Saya berkenalan dengannya, atas jasa seorang sahabat yang cukup sering membantu saya, mas Bambang. Agus datang bersamanya di acara launching buku Oom Bob Sadino, Mereka Bilang Saya Goblok! Di toko buku Gramedia.



Saya sering dikenalkan dengan relasi mas Bambang. Tapi perkenalan saat itu sungguh berbeda. Agus, adalah penderita down syndrome.



Agak sulit berinteraksi dengan Agus. Bicaranya gagap dan sulit dimengerti. Pendengarannya dibantu dengan hearing aid. Kemampuan berpikirnya juga rada-rada telat. Cuma jangan main-main dengan hitung-hitungan uang. Dia bisa membedakan jenis uang, dari pecahan seribu sampai seratus ribu. Dia bisa berhitung dengan baik. Urusan tawar-menawar harga dan uang kembalian, nyaris nggak salah.



Agus memang luar biasa. Dia bukan tipe manusia yang puas dengan menjadi benalu. Sejak keluar dari Sekolah Luar Biasa selevel SMA kelas 1, ia tidak betah diam. Dengan sedikit uang, ia memulai usahanya sendiri. Ia tidak ingin membebani kehidupan keluarganya, yang hidup dari gaji seorang ayah yang bekerja sebagai pemadam kebakaran. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, ia mencoba berdagang.



Kini, profesi Agus sehari-hari adalah pedagang. Ia menjual buku-buku bertema agama Islam. Terkadang ia juga menjual peci dan juga minyak wangi yang dikemas dalam botol kecil. Sekarang, ia menggelar dagangannya di emperan masjid Elnusa. Sebelumnya, ia berkelana dari mesjid ke mesjid. Tak terhitung berapa kali ia dilarang berjualan oleh pengurus mesjid di mana ia menggelar dagangannya. Sekarang, ia bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp. 50.000 per hari.



Agus memang bukan orang yang mudah menyerah. Rasa percaya dirinya besar sekali. Inisiatifnya, sangat tinggi bahkan dibandingkan dengan orang normal. Sekali waktu, saya memintanya untuk membantu menjaga dan menjualkan buku saya di kantor Telkom Divre II Gatot Subroto. Untuk memudahkannya masuk, saya berjanji untuk menunggunya di lobby gedung. Sampai waktu yang sudah dijanjikan, ia belum muncul. Saya khawatir, ia tidak bisa masuk ke tempat acara.



Pagi itu, ia memang datang terlambat. Vespa bututnya rusak dan perlu diperbaiki dulu. Ketika itu, saya sudah ada di podium untuk mengisi acara. Dua dus buku langsung ditatanya di sebuah meja. Ia sudah siap jualan. Dan di akhir acara, buku ‘Monyet Aja Bisa cari Duit!’ dagangannya laris manis. Sejak itu, buku ‘Monyet’ jadi mata dagangan baru baginya. Sejak itu pula, Agus adalah bagian dari tim, ketika saya harus ‘ngamen’ di beberapa tempat.



Lama saya tidak berjumpa Agus. Sampai suatu saat saya menerima SMS dari mas Bambang. Ketika itu, saya baru pulang dari Hong Kong. Isinya beda dari biasa. Itu SMS titipan dari Agus. “Bang Jay. Agus punya tabungan dua juta. Kalau boleh, Agus mau ikut bang Jay ke Hong Kong bulan depan. Kata pak Bambang, banyak peluang bisnis yang bisa digarap.”



Subhaanallah. Insya Allah Gus. Kita berangkat bersama ke Hong Kong bulan depan. Insya Allah ada peluang bisnis buat Agus garap …



(Ketika tulisan ini saya posting, Agus sudah ada di Hongkong, untuk suatu acara pelatihan dengan audiens para TKI yang bekerja di Hongkong)



penulis : Zainal Abidin PH

sumber : http://warnaislam.com/blog/jayideas/2009/7/23/18360/Agus_..._Agus_....htm


Dikirim pada 29 September 2009 di Hiburan
Awal « 1 » Akhir
Profile

Easy Going More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.065.666 kali


connect with ABATASA