0

Setidaknya sekali waktu dalam hidup, pasti anda pernah mengalami suatu peristiwa yang begitu memotivasi. Misalnya ketika mengikuti seminar Andrie Wongso, anda merasa termotivasi untuk mengikuti jejaknya yang sukses karena SDTT TBS (Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses). Setelah mengikuti ceramah Aa’ Gym, anda seperti tersentuh dan ingin mengubah perilaku menjadi lebih baik.






Ada penyesalan mendalam terhadap berbagai perbuatan buruk yang pernah anda lakukan, ketika anda ikut zikir bersama ustadz Arifin Ilham. Atau anda merasa tersentak ketika suatu ketika kawan dekat anda divonis dokter terkena kanker paru-paru akibat kebiasaan merokok. Anda mungkin merasa, sebagai perokok, anda juga punya potensi yang sama untuk terserang kanker paru-paru. Ketika itu, niat anda bulat untuk berhenti merokok. Motivasi anda untuk meraih apa yang anda inginkan tengah berada pada titik kulminasi atas.



Manusia memang bisa termotivasi oleh berbagai peristiwa yang dialaminya. Ia berkeinginan sembuh dari kecanduan narkotika, terinspirasi oleh para penceramah atau seminaris. Ia mau bekerja keras, karena motivasinya dipompa dalam sebuah seminar. Ketika tersentuh, motivasinya tinggi sekali. Semangat menggelegak. Tapi biasanya, efeknya hanya sementara, karena sebagian besar kembali lagi ke selera asal. Ia kembali ke kebiasaan semula. Perasaan termotivasi itu lambat laun menurun kadarnya, dan akhirnya ia kembali tidak peduli.



Kasus kecanduan rokok, pelatihan yang tidak berpengaruh secara permanen, atau nasihat para pemuka agama yang tidak berhasil diimplementasikan, bermuara pada satu hal, yaitu sumber motivasi.



Ada analogi menarik dari dunia otomotif tentang sumber motivasi. Untuk menghidupkan sebuah mobil, dibutuhkan kekuatan aki. Setelah mobil sudah hidup, maka kekuatan aki sudah tidak dibutuhkan lagi, karena kekuatan sudah berpindah ke dinamo. Apabila dinamo berfungsi dengan baik, tanpa aki pun, mobil masih tetap bisa dijalankan. Mengapa harus ‘switch’ dari aki ke dinamo? Karena aki memiliki daya simpan yang relatif rendah dibanding dinamo.



Aki, adalah sumber motivasi dari luar. Dalam kehidupan manusia, aki bisa berwujud ceramah, zikir, tontonan atau kejadian, yang secara langsung membuat manusia ‘tersentuh’. Karena daya simpannya lemah, kekuatannya mudah menurun atau bahkan habis. Dinamo, adalah sumber motivasi dari dalam. Dalam kehidupan manusia, dinamo analog dengan ketetapan hati untuk meraih tujuan hidup.



Ini yang menarik. Ketika seseorang merasa termotivasi karena seminar, ceramah atau mengalami kejadian menarik, orang itu telah menggunakan ‘aki’ dalam tubuhnya. Sayangnya, ia tidak mengubah ‘switch’ motivasinya ke ‘dinamo’. Karena daya simpannya rendah, maka lama-kelamaan motivasi itu habis, dan ia membutuhkan ‘aki’ baru.



Bandingkan jika ia mengubah sumber energinya ke dinamo. Apapun yang terjadi, sumber motivasi dari dalam itu akan terus bertahan. Ketetapan hatilah yang membuat seorang Muhammad SAW teguh dengan Islamnya, sekalipun dalam beberapa tahun periode awal dakwah, pengikutnya masih sedikit jumlahnya. Ketetapan hatilah yang membuat Edison tahan menguji hampir 10.000 bahan pembuat bola lampu. Pertanyaannya, sudahkah anda menswitch sumber motivasi anda ke dinamo pribadi bernama ketetapan hati?



(Dimuat di Majalah KHAlifah, Edisi Agustus 2009) from warnaislam.com


Dikirim pada 13 November 2009 di Tazkiyatun Nafs

Ingin kami ucapkan beberapa kalimat kepadamu ukhti. Lewat surat ini, dari kami yang berada di bawah desingan peluru musuh dan gelegar ledakan roket, juga dari kami yang kini terpaksa meringkuk di balik jeruji besi hanya karena kami menyatakan bahwa “Tuhan Kami Adalah Allah”, untukmu Ukhti Muslimah… karena kau adalah permata. Kau juga perhiasan mulia yang melengkapi keindahan ajaran Nabi Shalallahu "Alahi Wasallam. Beberapa kalimat yang kami tulus keluar dari lubuk hati kami sebagai saudara yang bersama melaju ke arah yang satu. Demi menyelamatkanmu dari cakaran manusia serigala berbulu domba.






Ukhti Muslimah….!!! Kami tidak akan membawa sesuatu yang baru, semoga kau tidak bosan mendengarnya…. walau rasanya sudah berkali-kali kami ingatkan bahwa tiada agama manapun yang lebih memuliakan wanita sebagaimana Islam. Jika kau masih tidak percaya, lihatlah pada sejarah .. apa yang dilakukan oleh penghuni zaman jahiliyah terhadap kaummu, bukankah mereka menguburmu hidup-hidup hanya karena takut jatuh miskin atau durhaka?



Entah apa yang mereka cari. Betapa jauh mereka menghinakanmu. Betapa buruknya gambaranmu di mata mereka. Bagi mereka, kau tidak lebih dari sekerat tebu segar, yang setelah manis sepah dibuang…. Kemudian belum puas dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi hak-hak wanita…sungguh sebuah penyesatan dan pendustaan yang nyata.



Bukankah engkau adalah yang paling banyak diperjual belikan bagai barang rongsokan, sebagai hamba sahaya di zaman kerajaan Romawi? Bahkan hingga kini….. di suatu zaman yang mereka juluki zaman kebebasan dan kemerdekaan, mereka teruskan tradisi itu. Hanya saja,… kini mereka bungkus dengan kata kontes ratu kecantikan, yang memperlombakan ukuran tubuh terbaik bagi para lelaki hidung belang.



Bagi mereka, kau tidak lebih dari sekerat tebu segar, yang setelah manis sepah dibuang…. Kemudian belum puas dengan itu mereka masih melolong bahwa Islam menzalimi hak-hak wanita…sungguh sebuah penyesatan dan pendustaan yang nyata.






Ukhti Muslimah….!!! Usaha perbaikan dirimu adalah sebuah cita-cita abadi dan tujuan yang mulia serta harapan seluruh Arsitek bagi proyek perbaikan umat. Karena mereka tahu, kunci perbaikan umat ini ada pada dirimu, jika dirimu baik…maka baiklah seluruh umat ini.



Demi Allah..!!! berpeganglah dengan tali ajaran agama ini. Laksanakan segala perintahnya. Jangan langgar larangannya, apalagi mempersempit hukum haramnya. Karena semua itu hanya akan lebih mengekang kehidupanmu sendiri. Karena tiada keadilan yang lebih luas dari keadilan Islam terhadapmu dan kaummu. Jika kau lari dari keadilan Islam, kau hanya akan menemui kedzaliman dunia terhadap hak-hak kehidupanmu. Berpeganglah sebagaimana Umahatul Mukminin mencontohkannya dalam kehidupan sehari hari mereka. Teladani isteri-isteri para sahabat dan kaum Muslimin yang telah membuktikan nilai keindahan permatamu.






Ukhti Muslimah…!!! Ketahuilah agama ini bukan hanya di mulut, tetapi ia menuntut adanya amal nyata. Laksanakan perintah-perintahnya dan jauhi larangan-larangannya, walaupun tanpa kalimat “jangan”.



Sesungguhnya kamu tidak perlu pengakuan timur dan barat karena kemuliaanmu dan harga dirimu telah ada sejak kau di lahirkan, dan bagi kami wahai Ukhti Muslimah,.. kau lebih mulia dari sekadar makhluk yang tergoda gemerlapnya dunia dan jeritan pekikan mungkar yang di sifatkan dengan “suara keledai” (Qs. Luqman 19) oleh Sang Maha pencipta.



Kami tak rela melihatmu tenggelam dalam tipuan mereka yang selalu ingin menghinakanmu dengan berpura-pura memujimu, tetapi melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata jutaan bahkan milyaran manusia di dunia.



Mereka hanya menginginkan kehormatanmu sama seperti binatang yang memang tidak pernah berpakaian.



Mereka hanya menginginkanmu mencoreng-coreng mukamu dengan polesan-polesan yang merusak wajah aslimu yang indah hasil ciptaan yang Maha Indah.



Kami tak rela melihatmu tenggelam dalam tipuan mereka yang selalu ingin menghinakanmu dengan berpura-pura memujimu, tetapi melucuti pakaian dan menelanjangimu di depan mata jutaan bahkan milyaran manusia di dunia.



Mereka hanya ingin menjadikanmu pemuas nafsu setan-setan jantan berhidung belang. Mereka hanya ingin menjadikanmu bagaikan tong sampah yang hanya diisi benih-benih buruk dan tercela.



Demi Allah kami tidak rela. Karena bagi kami kau sangat berharga, bagi kami kau adalah pelengkap kehidupan duniawi dan Ukhrawi, maka besar jualah harapan kami padamu…






Ukhti Muslimah….!!! Seorang Muslimah tidak pantas untuk menjadi keranjang sampah yang menampung berbagai budaya hidup dan akhlak yang buruk. Apalagi budaya barat dengan berbagai kebiasaannya yang terlihat kotor dan menjijikkan itu.



Seorang Muslimah harus mandiri dalam memilih cara hidupnya sendiri, tentu semuanya berangkat dari acuan “Firman Allah” dan “Sabda Nabi-Nya Shalallahu "Alahi Wasallam.”



Seorang Muslimah selalu ingat bahwa pada suatu hari dahulu Rasulullah Shalallahu "Alahi Wasallam. Pernah bersabda: “Barang siapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka”. Maka ia sangat berhati hati dan kritis dalam menentukan tatacara hidup, berpakaian, dan bermu’amalah.



“Barang siapa yang meniru (kebisaaan) suatu kaum, maka ia (termasuk) golongan mereka”. al-hadits.






Ukhti Muslimah….!!! Engkau adalah puncak. Engkau juga kebanggaan dan lambang kesucian. Engkau menjadi puncak dengan Al-Qur’an. Dan menjadi kebanggan dengan Iman serta lambang kesucian dengan hijabmu dan berpegang pada ajaran agama ini. Lalu mengapa ada lambang kesucian yang malah meniru cara hidup yang najis.



Bagi umat ini, Ibu adalah Madrasah terbaik jika ia benar benar sudi mempersiapkan dan mengajari serta mendidik generasinya. Kiprah seorang Ibu dalam membentuk generasi Umat terbaik dan Mujahid penyelamat serta pengawal hukum hakam Allah adalah sangat penting.



Lihatlah para pahlawan kita, mereka yang telah membuktikan dengan nyataa keberanian dan keikhlasan mereka dalam memperjuangkan tegaknya Kalimatullah… mereka semua tidak lepas dari sentuhan lembut para ibu yang dengan sabar dan tanpa bosan terus mendidik mereka untuk menjadi mahkota bagi agama ini. Sadarilah!!!!



Kewajiban seorang ibu bukan hanya memilihkan pakaian yang sesuai bagi anaknya atau memberikan makanan yang terbaik baginya. Sungguh tanggung jawab ibu jauh lebih besar dari sekadar itu semua, karena itulah kami sangat memerlukan seorang Isteri dan ibu yang bisa mendidik anaknya dengan dien Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shalallahu ’Alahi Wasallam.



Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anak perempuannya untuk menutup auratnya dan berhijab dengan baik. Mendidiknya untuk mempunyai sikap malu dan berakhlak mulia. Kami tidak sedikitpun membutuhkan wanita yang hanya bisa mendidik anaknya untuk bertabarruj dan bernyanyi serta menghabiskan waktunya bersama televisi dan film-film yang berisi "Binatang-binatang" yang di puja.



Kami juga tidak membutuhkan wanita yang hanya bisa membiasakan anak perempuannya berpakaian mini sejak kecil. Di mata kami wanita seperti itu bukanlah seorang Ibu, tetapi ia lebih tepat untuk di sebut sebagai racun bagi kehidupan anaknya sendiri. Ibu yang seperti itu tidak bertanggung jawab dan pengkhianat umat dan agama ini, serta menzalimi anaknya sendiri.



Kami memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak-anaknya taat kepada Rabbnya, karena melihat ibunya selalu ruku’ dan sujud.



Kami memerlukan wanita suci yang bisa mengajari anak-anaknya taat kepada Rabbnya, karena melihat ibunya selalu ruku’ dan sujud.



Kami memerlukan seorang ibu yang bisa memenuhi rumahnya dengan alunan suara Al Qur’an bukan alunan suara-suara setan atau namimah serta ghibah yang sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya, supaya rumahnya menjadi rumah yang sejuk dan tenang serta bersih dari unsur unsur najis nyata atau maknawi.



Kami memerlukan wanita yang dapat mengajari anak-anaknya untuk selalu bertekad mencari Surga Allah bukan hanya mengejar kenikmatan harta dunia.



Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan permusuhannya kepada musuh-musuh Allah.



Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk mendapatkan kehidupan abadi di sisi Rabbnya sebagai Syahid dalam perjuangan membela kalimatullah yang mulia.



Kami memerlukan wanita yang bisa mengajari anaknya untuk siap melaksanakan Jihad fi Sabilillah serta menyatakan permusuhannya kepada musuh-musuh Allah.






Ukhti Muslimah….!!! Kami memerlukan wanita yang selalu mengharap pahala dalam melayani suaminya, hingga ia selalu taat dan menghiburnya serta tidak pernah sedikitpun ingin melihat wajah murung sedih sang suami.



Kami memerlukan wanita yang selalu menjaga dien anak-anaknya sebagaimana ia selalu menjaga kesehatan mereka. Salam hormat dari kami….



Salam hormat dari kami Kepada wanita yang sukses menjaga hubungannya dengan Rabbnya. Dapat beristiqomah pada Diennya. Dan dapat mempertahankan hijabnya di tengah badai cercaan lisan mereka yang jahil.






Salam hormat dari kami….. kepada wanita yang selalu tegas menjaga dirinya dari ber-Ikhtilat dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, dan menjaga dirinya dari pandangan lelaki yang di hatinya masih ada penyakit dan lemah. Salam hormat kepada wanita yang selalu menjaga agar dirinya tidak menjadi pintu masuk bagi dosa dosa dari berbagai jenis perzinaan.



Salam hormat dari kami….. Kepada wanita yang selalu sigap menutupi keindahan tubuh dan wajahnya dengan hijab tetapi selalu memperindah diri di hadapan sang suami tercinta. Ia tahu bagaimana menjaga dirinya dengan tidak bepergian sendiri agar tetap terlihat mulia bahwa ia adalah wanita yang terjaga.






Demi Allah Ukhti …. Wanita-wanita yang seperti itulah kebanggan umat ini, mereka juga perhiasan masyarakat Islami, karena siapa lagi yang akan menjadi kebanggan itu kalau bukan mereka? Bukan wanita yang selalu mengumbar aurat lengkap dengan berbagai polesan Tabarruj dan potongan-potongan pakaian yang menjijikkan ditambah lagi cara berjalan yang meliuk-liuk bagaikan unta betina itu.



Bukan pula wanita yang waktunya habis di pasar-pasar malam dan Supermarket atau Mal? Kehidupannya hanya untuk melihat harga ini dan harga itu, toh semuanya juga tidak terbeli…. Bagi kami mereka adalah perusak kesucian Islam, mereka tidak pantas menyandang nama mulia sebagai “Muslimah” karena mereka justeru melakukan pembusukan dari dalam.






Ukhti Muslimah…!!! Ingatlah bahwa kehidupan dunia ini hanya sebuah persinggahan, bersiaplah untuk meneruskan perjalanan ke negeri abadi, jangan sampai engkau lena…



Persiapkanlah bekalmu dengan memperbanyak amal sholeh, sebagaimana kau persiapkan dirimu dengan baik jika kau akan berangkat menghadiri pesta penikahan atau bepergian ke tempat teman atau saudaramu.



kini kau pasti akan melakukan suatu perjalanan yang tidak dapat kau elakkan lagi, hari dan waktunya pasti datang…lalu apakah engkau telah siap..???? kau akan melakuakn suatu perjalanan yang membawamu hilang dari ingatan seluruh manusia, baik saudara atau sahabat, tetapi sebenarnya kau masih bisa mengabadikan namamu jika kau ingin melakukannya, tirulah apa yang di lakukan oleh Masyitah, atau Asiah (isteri Fir’aun), atau Mariam binti Imran Ibu Nabi Isa yang mulia, atau A’isyah binti Abu Bakar Radhiallahu ’Anha. Yang telah membuktikan kepada dunia akan harga diri seorang wanita serta kejeniusannya.



Lihatlah betapa nama mereka harum dan kekal, namanya pasti kan sampai ke telinga orang terakhir yang terlahir di bumi ini nanti. Sebagai bukti bahwa sang pemilik nama juga sedang hidup kekal bahagia di Jannah Rabbil Alamin.



Tetapi coba bandingkan dengan mereka yang tertipu dengan gemerlap dunia, apalagi ia menjadi terkenal hanya karena ia terlalu berani mengumbar auratnya, atau ia berani memasang tarif yang tinggi untuk harga dirinya, apakah semua itu memberinya manfaat setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah di liang kubur?






Berhati hatilah..jangan sampai kau terjerumus pada jurang yang sama, hingga kau akan menyesal di hari yang sudah tiada berguna lagi arti sebuah penyesalan.



Ikhwanukunna Fillah, Mujahid Fi Sabilillah.






Oleh : Abu Ikrimah Al-Bassam




Dikirim pada 05 November 2009 di Tazkiyatun Nafs

Ekspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?



Berbicara soal cinta mencintai, saya terkesan dengan filosofi cinta yang dimiliki ibu saya. Filosofi beliau ini saya ‘tangkap’ secara tak sengaja ketika beliau sedang ‘menceramahi’ adik bungsu saya yang laki-laki yang sedang kasmaran. Cerita sedikit, begini kira-kira sebagian kecil isi ceramah ibu saya… “Kalau kamu mencintai seseorang malah membuat kamu jadi malas belajar, malas kuliah, malas ngapa-ngapain, membuat kamu malah jadi mundur kebelakang, itu cinta yang nggak benar …dst”.





Jadi begitu rupanya. Saya mencoba merenungi kata-kata itu lebih dalam. Saya merasakan ada kebenaran dari ‘ceramah’ ibu saya itu. Mencintai seseorang tidak boleh membuat kita menjadi mundur ke belakang. Sebaliknya, mencintai seseorang harus membuat kita lebih produktif, lebih berenergi, lebih punya vitalitas. Singkatnya, mencintai seseorang harus membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya!



Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Ummahat al-Mukminin dengan Rasul Yang Mulia, antara para shahabiyat dengan suami mereka. Lihatlah ekspresi cinta Fathimah putri Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib, Asma’ binti Abi Bakar terhadap Zubair bin Awwam, Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Khansa’, Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin ‘berkembang’ dan ‘bersinar’ setelah menikah!



Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai suami memberi pengaruh posititif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.



Menurut saya, mencintai suami tidak berarti ‘kehilangan’ diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa ‘terhambat’, ‘terbelenggu’, atau ‘tak berdaya’. Kita bisa mencintai suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari’at Allah.



Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada suami memiliki ‘kekuatan’ yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita ‘berkembang’, menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan ‘kekuatan dan darah baru’ dari pernikahan para aktifisnya.



Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak perempuan kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi ‘tenggelamnya’ perempuan setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai di Jakarta dan juga ketika saya berkunjung ke daerah-daerah.



Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari ‘kambing hitam’ segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629… “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”



Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta’awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!



Saya memberikan apresiasi kepada para perempuan yang setelah menikah justru semakin ‘bersinar’, kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Barakallahu fiiki.



Lalu untuk perempuan yang masih merasa ‘terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan ‘menggali kuburan sendiri’. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!



“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu” (QS al-Hujurat:13).



Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita. Barakallahu fiiki!

Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.



sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/aku-mencintaimu-dan-mendukungmu/

Dikirim pada 01 November 2009 di Tazkiyatun Nafs

Terpinggirkannya umat Islam dalam pentas politik selama ini, lebih disebabkan karena umat tidak bersatu, para pemimpinnya lebih mengedepankan ego pribadi dan kelompok ketimbang kepentingan izzah Islam dan kaum Muslimin.



“SHAWU... Shawwu... “ demikian biasanya Imam Shalat di Masjid Haram mengingatkan para makmum jamaah sholat untuk merapatkan dan merapikan barisan (shaf). Sesuai sabda Nabi Saw, sesungguhnya kerapihan shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah.



Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah saw akan mengimami shalat berjamaah. Sebelum bertakbir beliau meratakan shaf para sahabatnya sebagaimana barisan tentara. Ketika akan mulai bertakbir, tiba-tiba ada seorang makmum yang dadanya lebih maju dari yang lainnya. Melihat hal itu beliau bersabda,



"Hai hamba Allah, harus kamu ratakan barisan kamu atau Allah akan membuat hatimu saling berselisih" (HR Abu Dawud).



Selain rata, Nabi Saw juga memerintahkan para makmum untuk merapatkan barisan mereka.



"Jangan kalian biarkan ada celah renggang di tengah barisan untuk jalannya syaitan".



"Rapatkan barisan kamu, karena demi Allah, sesungguhnya aku melihat syaitan masuk ke sela-sela barisan shalat".



Shalat berjamaah merupakan cermin kesatuan umat Islam. Ketika melaksanakan shalat, visi dan misi mereka satu, yakni penghambaan total kepada Allah Swt. dan menggapai mardhotillah. Ketaatan kepada pemimpin pun tercermin dalam shalat berjamaah. Tidak peduli dari firqoh mana sang imam, komandonya tetap diikuti para makmum. Perbedaan firqoh, ormas, parpol, atau kepentingan duniawi, lebur dalam kesamaan visi dan misi beribadah kepada Allah Swt.



Begitulah semestinya umat Islam. Bersatu-pada dalam satu visi dan misi. Gambaran kerataan dan kerapatan shaf shalat mencerminkan setidaknya dua hal.



Pertama, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada orang yang merasa paling hebat atau unggul, sehingga ingin menonjol di antara jamaah. Nabi Saw menyebutkan, jika dalam barisan umat ada yang berdiri “lebih maju” ketimbang yang lain, itu akan menyebabkan perselisihan. Cukup satu orang saja, yakni imam (pemimpin) yang berdiri paling depan di antara jamaah, karena ia memegang komando.



Perselisihan di antara umat Islam kerap terjadi karena ada orang melangkah sendirian, meninggalkan barisan umat, untuk mengejar kepentingan pribadi. Ia mengesampingkan kepentingan jamaah umat Islam secara keseluruhan. Bahkan, ia membentuk gerbong sendiri untuk menunjukkan keunggulannya.



Kedua, dalam jamaah umat Islam tidak boleh ada celah sedikit pun yang memberi peluang masuknya setan ke celah itu. Jika terjadi gap di antara barisan umat, maka setan akan menggoda manusia untuk berselisih, lalu berpecah-belah.



Artinya, umat Islam harus terus merapatkan barisan, mengikat kuat-kuat tali ukhuwah Islamiyah, sehingga tidak ada peluang bagi musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba dan memecah-belah kekuatan umat Islam.



PERSELISIHAN di antara umat Islam merupakan sumber kebinasaan kaum Muslimin. Dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw pernah mengabarkan bahwa beliau memohon kepada Allah SWT agar umatnya tidak binasa karena kekurangan pangan (kelaparan yang mewabah), serta agar umatnya tidak binasa karena serangan musuh dari luar Islam. Allah SWT mengabulkan permohonan itu.



“Wahai Muhammad... Aku memberi umatmu agar mereka tidak binasa akibat kelaparan yang mewabah serta musuh dari luar, sekalipun musuh-musuh umatmu itu berkumpul dari berbagai penjuru, sehingga sebagian umatmu menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mencaci yang lain” (HR Muslim).



Dalam hadits tadi jelas tergambar, umat Islam hanya akan binasa akibat perpecahan di antara mereka sendiri. Jamaah umat Islam akan lemah dan hancur akibat permusuhan dan saling caci di antara mereka sendiri.



Tidak heran jika hingga kini musuh-musuh Islam terus menjanalkan strategi jitu mereka untuk menguasai umat Islam, yakni pecah-belah dan kuasai (devide et impera). Orientalis kondang Snouck Hurgrounje dalam sebuah memorandumnya mengatakan:



“Tidak ada gunanya kita memerangi kaum Muslimin atau berkonfrontasi untuk menghancurkan Islam dengan senjata. Itu semua bisa kita lakukan dengan mengadu-domba antara mereka dari dalam dengan menanamkan perselisihan agama, pemikiran, dan madzhab...”



Maka, umat Islam mesti waspada. Kedepankan persamaan di antara kita, benamkan sekuat mungkin perbedaan yang tidak prinsipil. Tanamkan selalu prasangka baik dan kasing-sayang terhadap sesama Muslim, agar persatuan umat tetap terpelihara, sehingga tidak ada celah bagi musuh-musuh Allah mengadu-domba dan memprovokasi perselisihan di antara umat Islam sendiri. Jangan terpancing untuk mencela sesama Muslim, karena itu akan menjadi benih perpecahan dan dimanfaatkan musuh-musuh Allah untuk mengadu-domba umat Islam. (Abu Faiz).*warnaislam.com




Dikirim pada 31 Oktober 2009 di Tazkiyatun Nafs
Profile

Easy Going More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1.088.719 kali


connect with ABATASA