0

Tidak sedikit di antara kita yang menuliskan pada statusnya di FB: " Tahajjud sudah, dzikir sudah, baca al-Qur’an sudah. Sekarang apalagi ya?" Atau, ada lagi yang menuliskan bahwa dia sudah makan ini dan minum itu untuk sahur,puasa sunnah.atau update status di tengah malam, bilang tahajjud , atau cara lain dengan cara membangunkan sahur(sahur-sahur ayo sahur) dan untuk sholat subuh,



agar diketahui orang lain bahwa dia sedang mengerjakan amal shalih.



Astagfirullah.......



semoga tidak ada dipikiran kita niat seperti ini.



mari kita tutup rapat_rapat peluang masuknya setan, kita sudah yakin kan bahwa Allah melihat semua aktifitas kita.



JADI CUKUP ALLAH SAJA YANG TAHU!!!



Wahai para hamba Allah yang sedang meniti jalan menuju Rabbnya, janganlah luasnya rahmat dan ampunan Allah menjadikan kita merasa aman dari siksa dan adzab-Nya. Janganlah kita merasa bahwa segala amalan yang kita kerjakan pasti diterima oleh-Nya, siapakah yang bisa menjamin itu semua?



Tidak diragukan lagi bahwa riya’ membatalkan dan menghapuskan amalan seorang hamba. Dalam sebuah hadits qudsi,



(Allah berfirman):"Aku paling kaya, tidak butuh tandingan dan sekutu. Barangsiapa beramal menyekutukan-Ku kepada yang lain, maka Aku tinggalkan amalannya dan tandingannya." (HR. Muslim no. 2985)





Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:



"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil?" Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya’." (HR. Ahmad 5/428, Baihaqi no. 6831, Baghawi dalam Syarhus Sunnah 4/201, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 951, Shahih Targhib 1/120).



Wallahualam...



by

Reno Setiawansyah



Dikirim pada 14 Desember 2010 di Uncategories

Tahukah sesuatu yang berubah darimu?

tidak ada, hanya setitik perbedaan dan itu kau anggap biasa

tapi tidak bagiKu

Setiap bangun pagi, kau menyapanya

menyalurkan kata-kata hati dan mimpimu semalam padanya

kadang keadaanmu bagus, kadang tidak

Di sekolah pun kau bersamanya

di kelas, di kantin, di WC, selalu berdua

tak jarang guru menegurmu karena kau asyik dengannya

maka tak heran prestasimu menurun, meski kadang naik

kadang keadaanmu bagus, kadang tidak

Di rumah pun, kau habiskan canda tawamu dengan dia

orang tuamu sering berbicara dua kali, dan lebih keras, karena kau tidak benar-benar mendengarkan mereka

adikmu, kakakmu, dan kamu juga kini jarang bercengkerama

kadang keadaanmu bagus, kadang tidak

Di dalam kesendirianmu, keceriaanmu

dalam sedih, dan dukamu

dalam marah, dan harumu

dalam jatuh, dan bangkitmu

juga dalam sakit, dan riangmu

selalu ada Aku, tapi itu dulu

sekarang ada dia, dan hanya dia

tempatmu berkeluh kesah, bermain logika, berbagi kenarsisan, dan lainnya

dan kadang keadaanmu bagus, kadang tidak

tahukah kamu, sahabatmu jadi menjauh karena dia

tahukah kamu, orang tuamu jadi sedih karena dia

tahukah kamu, guru dan teman-temanmu seakan asing karena dia

dan tahukah kamu, sekarang dirimu lebih singkat menyapaKu

kadang keadaanmu bagus, kadang tidak

Sehari, berkali-kali kau menyapanya

sehari, 5 kali kau menyapaKu, kadang kurang dari itu

seminggu, kau beratus kali membaca status teman-temanmu

seminggu, kau hanya sekali-kali membaca firman-firmanKu

sebulan, ratusan foto kau upload untuknya

sebulan, hanya segelintir do’a dan permintaan yang kau upload padaku

setahun, 365 hari kau bersamanya, ratusan kali kau update statusmu untuknya

dan setahun, kau menjalani hari-harimu tanpaKu di hatimu

Sedih hatiku, semua yang kau butuhkan tak pernah ragu Ku limpahkan untukmu, hanya untukmu

tapi dirimu masih saja ragu akan eksistensiKu

Aku bisa saja membuatmu jatuh, tersungkur, dan terpukul, dengan menghancurkan dia atau dirimu

itu mudah untukku,tapi tidak, Aku hanya ingin disembah dengan baik

tak akan Ku sakiti hambaKu dengan cara seperti itu

Aku tau kau akan berubah, Aku hanya mengujimu

Seberapa pentingkah Aku bagimu, hambaKu :)

kadang statusmu bagus, kadang tidak



sumber : http://fiksi.kompasiana.com/group/puisi/2010/08/26/andai-tuhan-punya-facebook/

Dikirim pada 30 Agustus 2010 di Uncategories

Begitu elegan syariat Islam memperlakukan manusia dengan sifat kemanusiaannya. Kita tidak dipaksa menjadi malaikat dengan beribadah terus menerus. Tidak pula kita dibiarkan tenggelam menjadi hewan yang sibuk makan dan bersetubuh saja. Begitu pula dalam Ramadhan. Puasa tidak lantas menutup semua celah bagi suami istri untuk saling berbagi rindu. Ada malam-malam Ramadhan yang bisa menjadi saksi mesra dan gairah antara suami istri. Ini bukan sekedar halal namun juga sebuah pengakuan. Pengakuan atas sisi kemanusiaan kita yaitu nafsu. Sebuah ayat menyatakan dengan penuh sindiran tentang hal ini.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)

Serangkaian kemesraan pada malam hari Ramadhan begitu indah digambarkan: suami istri menjadi pakaian bagi yang lainnya. Bahasa sederhananya adalah saling menutupi, saling melindungi, dan akhirnya saling memberi ketenangan. Puncak aktifitas mesra pada malam Ramadhan –tentu saja – adalah jimak. Halal. Pembahasan tentang jimak sudah kita bahas sebelumnya, dan rasa-rasanya tidak terlalu jauh berbeda antara Jimak di malam Ramadhan dan yang selainnya. Karenanya kita akan lebih konsen pada kemesraan-kemesraan yang mungkin tercipta di siang hari Ramadhan. Mungkinkah ?

Alhamdulillah. Menjaga mesra di siang Ramadhan dengan penuh elegan sudah sejak lama dicontohkan. Beliaulah –SAW- yang senantiasa proporsional dalam setiap aktifitasnya. Bahkan kemesraan-kemesraan yang beliau ciptakan sama sekali tidak mengganggu kekhusyukan. Lebih jauh lagi, tidak membatalkan puasanya. Mari kita belajar mesra dari qudwah dan junjungan kita.

Apa saja prestasi mesra beliau di bulan puasa.

1. Tetap Mesra di Malam Ramadhan
Dari Abu Bakr bin Abdurrahman, Ummu Salamah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bangun pagi dalam keadaan junub karena bersetubuh, bukan karena mimpi. Namun beliau tidak berbuka dan tidak mengqadha (mengganti) puasanya “. (HR Muslim (III/138)
Begitulah Rasulullah SAW sebagai pedoman. Malam Ramadhan bukan berarti menjauh dari istri atas nama kekhusuyukan. Mengingkari sebuah kebutuhan yang telah dihalalkan. Jadikan malam Ramadhan penuh kenangan yang beragam. Kenangan dalam ibadah juga kenangan dalam berlabuh mesra bersama pasangan. Tinggal pandai-pandai memanajen waktu yang ada. Antara habis tarawih dan sebelum sahur. Agar di siang hari syahwat kita tidak terlunta-lunta.

2. Tetap Mencium mesra saat berpuasa
Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mencium dan memeluk (istrinya) padahal beliau sedang berpuasa dan beliau adalah orang yang paling dapat mengendalikan nafsu seksualnya diantara kamu } HR Bukhori (V/51) dan Muslim (III/135)
Ternyata siang hari Ramadhan tidak selalu diliputi kehausan. Bagi sebagian pemburu mesra waktu apapun akan dijadikan ladang pahala mesra. Apalagi jika Rasulullah SAW telah mencontohkan. Seolah mengisyaratkan bahwa beliau sangat paham, bahwa ada sebagian umatnya yang juga tetap romantis di saat puasa.

Mencium mesra saat dahaga melanda adalah bagai guyuran air hujan yang sejuk dari langit sana. Mencium mesra saat puasa memang membutuhkan manajemen potensi syahwat yang ketat dan luar biasa. Sekali saja tergelincir penyesalan menjadi tiada guna. Karenanya, berlatihlah mencium untuk menghias mesra saja, tanpa perlu syahwat ikut bergelora. Ciuman sayang, ciuman kasih, banyak yang bisa kita lakukan selain ciuman syahwati. Seperti ketika sang suami pulang dan mendapati istrinya tidur. Lalu ia mencium kening istrinya dengan pelan agar tak terjaga. Inilah ciuman mesra yang penuh kasih. Tak ada campur tangan syahwat dan gairah.
Jika Anda ingin lebih dari sekedar mencium. Pastikan bahwa rambu-rambu batasan harus telah jelas terpancang. Pastikan pula bahwa agenda ibadah dan kekhusyukan jangan sampai hilang tanpa kesan. Jika mau bersabar, setelah maghrib episode mesra akan lebih berkesan insya Allah.

3. Tetap Mesra Saat I�tikaf

I�tikaf adalah aktifitas berdiam diri di dalam masjid, memenuhi waktu-waktunya untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Dilihat dari artinya, maka itikaf seolah tidak menyisakan celah bagi kita untuk romantis. Apalagi isyarat ini dikuatkan dengan antisipasi awal dalam Al Quran, dimana Allah SWT berfirman : " Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya " ( QS Al-Baqarah : 187 ). Walhasil, lengkap sudah alasan bagi kita untuk sejenak menutup pintu romantis lalu menata konsentrasi kita untuk lebih utuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun uniknya, kenyataan siroh yang indah mencatat banyak hal romantis yang dilakukan Rasullah SAW bersama istri-istri beliau, sekalipun dalam masa itikaf. Sekali lagi ini bukti keselarasan syariah Islam dengan para perindu romantis sepanjang masa. Ia tidak menutup satu pintu romantis kecuali membuka pintu-pintu yang lainnya. Inilah peluang-peluang yang harus utuh terbaca oleh setiap pemburu romantis.

Dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah Rasulullah SAW ketika sedang beri�tikaf, beliau menjulurkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir (rambut)nya, dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali untuk sebuah keperluan " ( HR Bukhori 1889 , Muwatho� (605), Muslim (445), Abu Daud (2111) Tirmidzi (733)

Dari Shafiyyah binti Huyay, Ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan itikaf, pada suatu malam aku datang mengunjunginya, lalu saya berbicara dengan beliau, kemudian saya berdiri untuk pulang. Beliau pun berdiri bersamaku untuk mengantarkan aku pulang, sedangkan tempat tinggalnya saat itu di kampung Usamah bin Zaid ( HR Bukhari dan Muslim dan Abu Daud )

Duh romantisnya ketika sedang itikaf, sang istri datang dan ikut merawat suaminya. Membersihkan wajah, menata rambut atau sekedar menyemprotkan minyak wangi misalnya. Mencari tempat yang tidak membuat pandangan para mu�takifin terlena meski sebentar. Ada pula peluang lain yang tak kalah berpahala ; menyiapkan logistik sang suami saat itikaf. Pastikan dia yang tercinta tak kelaparan saat tak bermalam dengannya. Makanan kesukaannya pasti sudah sama-sama hafal diluar kepala, apalagi saat ditambah bumbu rindu, maka semoga ini menambah semangat sang suami dan kekuatannya dalam memburu kemuliaan seribu bulan.
Dan pada akhirnya, langkah -langkah sang suami dalam mengantar kepulangan istri ke rumahnya, bisa berubah menjadi investasi pahala yang tak kalah menarik dengan aktifitasnya di dalam masjid. Jika bukan diniatkan mengikuti sunnah, apa lagi ? Seperti Ibnu Umar yang sangat idealis dalam meniru setiap gerak-gerik rasulullah SAW. Atas dasar kecintaan yang abadi.

Subhanallah. Selamat Romantis di Bulan Puasa !

sumber : http://www.indonesiaoptimis.com/2010/08/agar-tetap-mesra-saat-berpuasa-bagian-2.html

Dikirim pada 27 Agustus 2010 di Uncategories

Ramadhan yang dirindukan menjelang. Lantas bagaimana dengan agenda mesra para suami istri ? Apakah romantis harus kita tangguhkan terlebih dahulu hingga lebaran tiba ? Sanggupkah kita ? Jika tidak, adakah alternatif lainnya ?.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang kemesraan selama bulan Ramadhan, ada sebuah hadits yang perlu kita renungkan terlebih dahulu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda ketika Ramadhan datang menjelang : " Sungguh telah datang padamu sebuah bulan yang penuh berkah dimana diwajibkan atasmu puasa di dalamnya, (bulan) dibukanya pintu-pintu surga, dan ditutupnya pintu-pintu neraka jahannam, dan dibelenggunya syaitan-syaitan, Di dalamnya ada sebuah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Barang siapa diharamkan dari kebaikannya, maka telah diharamkan (seluruhnya) "(HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi)

Ramadhan sering datang dengan tiba-tiba, dan berlalu begitu cepat tanpa terasa. Ia adalah momentum termahal yang pernah kita punya untuk mendulang pahala. Ini mirip bulan promosi dan besar-besaran yang ditawarkan di pusat-pusat perbelanjaan. Kebaikan nilai pahalanya menjadi berlipat-lipat, semua orang berburu memborongnya. Saya sering mengibaratkan Romadhon itu : Bagaikan kita mendapat ’hadiah’ di sebuah pusat perbelanjaan. Kita diberi kesempatan untuk mengambil semua barang belanja di dalamnya, namun hanya dalam waktu sepuluh menit ! Allah SWT menggambarkannya dalam Al-Qur’an : " (yaitui) dalam beberapa hari yang tertentu" ( QS Al-Baqarah 184)

Semua kita, jika diberi kesempatan ’gratisan’ semacam itu, pasti segera meloncat lalu berlari menuju rak-rak belanjaan untuk segera mengambil barang-barang, dari yang termahal hingga termurah. Nyaris tanpa henti hingga waktunya selesai. Lelah berkeringat bukan masalah. Apa yang dalam pikiran kita adalah ini kesempatan berharga.. Sekali lengah atau berhenti bisa berarti kerugian yang tak terbayangkan.
Apa makna dari gambaran tersebut ? Arti yang harus kita pahami bahwa Ramadhan memang benar-benar berbeda. Perlu interaksi, konsentrasi dan energi yang berbeda pula dalam menyikapinya. Jangan sekali-sekali menyamakan Ramadhan dengan sebelas bulan yang lainnya. Berbeda dan sungguh berbeda.
Ini berarti, dalam bulan Ramadhan juga diperlukan sebuah kemesraan yang berbeda. Apa sajakah ?

Mesra dalam Mendulang Pahala

Sebagaimana program-program sebelumnya, kita selalu berusaha menyisipkan ’misi romantis’ dalam setiap hal yang kita lakukan. Begitu juga saat Ramadhan, dimana banyak rangkaian program ibadah yang cukup ketat disyariatkan. Disitulah kita dituntut untuk lebih kreatif. Mencari celah-celah yang memungkinkan untuk investasi romantis. Tanpa mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Tanpa mengotori ketulusan niat kita dalam beribadah. Namun justru dalam kerangka saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah SWT berfirman : " Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran " (QS Al Maidah 2)
Mari kita lihat sejenak peluang-peluang romantis yang ada dalam bulan agung ini. Untuk mendulang pahala sekaligus menguatkan ikatan mesra antara suami istri.

1. Makan Sahur, ada Keberkahan ada Kemesraan

Keheningan sebelum fajar pasti menggoda setiap insan untuk lebih mesra. Bahkan munajat di sepertigamalam yang terakhir selalu saja menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Di saat-saat yang romantis itulah saat untuk bersahur tiba. Perjuangan membangunkan pasangan sudah menjanjikan banyak celah untuk mesra. Belum lagi jika ditambah dengan menyiapkan hidangan sahur bersama-sama. Menyantapnya berdua atau bersama keluarga pun akan menghadirkan keakraban yang berbeda dari biasanya. Waktu sahur hati kita terasa begitu lapang.Beban pikiran belum terlalu banyak berdesakan di kepala kita. Inilah saat yang tepat untuk mendulang mesra. Lebih jauh lagi, ada keberkahan yang sudah seharusnya kita mendapatkannya dengan sahur bersama. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda : Bersahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahan ( HR Bukhori dan Muslim)

2. Kegembiraan Saat Berbuka

Rasulullah SAW bersabda : " Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka ( buka puasa dan juga saat Idul Fitri) dan kegembiraan saat bertemu Tuhan mereka " ( Hadits Bukhori & Muslim )
Setiap hari sepanjang bulan Ramadhan, ada kegembiraan yang layak untuk dirayakan. Hidangan buka puasa –apapun bentuknya- selalu ditunggu-ditunggu. Saat maghrib benar-benar menjelang, tidak ada alasan untuk segera menikmatinya. Mengejar keberkahan yang dijanjikan. Dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah SAW bersabda : " Manusia senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka " ( HR Bukhori dan Muslim)

Diantara kegembiraan dan keberkahan itulah, tercipta sebuah nuansa kemesraan yang baru. Tidak sekedar makan dan minum bersama untuk mengembalikan kekuatan raga. Cobalah juga beberapa hal yang menguatkan jiwa mesra Anda berdua. Berbukalah dengan satu suapan kurma dari tangan pasangan Anda. Atau berbukalah dengan ciuman tanpa kata-kata. Bahkan sesederhana air putih pun bisa menjadi lambang kemesraan, jika diminum segelas berdua. Jangan lupa untuk mengawali semua mesra itu dengan doa. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : " Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka ada doa yang tidak akan tertolak " (HR Ibnu Majah)

3. Panen Kemesraan dalam Doa

Rasulullah SAW : Ada tiga orang yang tidak tertolak doa mereka : " Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang terdzalimi " ( HR Tirmidzi)
Dalam bulan Ramadhan ada istilah ’Manajemen Doa’. Artinya bagaimana mengoptimalkan kesempatan yang ada untuk berdoa. Doa bagi semua orang. Dari yang terdekat, hingga yang terjauh dibelahan bumi yang lain. Dari yang paling dicintai, hingga yang paling dibenci. Semuanya layak untuk di doakan. Suami istri juga berhak punya doa-doa khusus yang lebih mesra jika diungkapkan bersama. Tentang harapan datangnya buah hati, harapan tumbuh shaleh dan sehatnya sang buah hati, harapan tercurahnya rizki, harapan cinta sekaligus pertemuan abadi di akhirat nanti. Berdoalah dengan semangat. Hindari keraguan dan jauhi kemalasan. Berdoalah dengan penuh harapan dan ketamakan juga kemewahan ! Sesungguhnya dalam doa ada motivasi untuk berbuat lebih baik dari sebelumnya. Lihatnya betapa percaya dirinya Istri Fir;aun dengan meminta sebuah bangunan khusus di sisi Rabb-nya : " Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga " (QS At-Tahriim : 11)

Berdoalah, karena Allah SWT begitu dekat dan mengetahui setiap yang terlintas dalam hati dan benak kita. Allah SWT berfirman : " Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadaku tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran." ( QS Al-Baqoroh 186)

4. Mesra Saat Tarawih

Salah satu keunikan saat Ramadhan adalah banyak orang yang bisa bisa sholat malam berturut-turut sebulan penuh. Sementara pada malam sebelas bulan yang lainnya, hal ini sama sekali tidak terbayangkan. Sholat malam ramadhan yang akrab disebut dengan shalat tarawih, adalah salah satu peluang penghapus dosa-dosa kita sebelumnya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang mendirikan (sholat) Romadhon dengan keimanan dan penuh pengharapan, akan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu " ( HR Ahmad dan Ashabu Sunan)

Kemesraan saat tarawih jangan diartikan sepasang suami istri bersenang-senang dengan ’tarawih keliling’ dari satu masjid ke masjid yang lain. Bukan pula kemesraan ’sekedar’ berjalan kali bersama saat berangkat dan pulang tarawih. Meski hal itu juga cukup mahal dan berharga bagi pasangan suami istri yang sebagian besar memilih berangkat sendiri-sendiri. Mesra saat tarawih adalah ketika sesekali Anda mengajaknya untuk sholat tarawih berjamaah di rumah. Istri selalu bangga jika berjalan berduaan dengan suaminya. Begitu pula sholat, ada kemesraan yang tercipta saat suami tercinta menjadi imam sholatnya. Kebanggaan untuk menjadi makmum bagi sang kepala rumah tangganya. Kemesraan dan kebanggaan ini akan berpadu menjadi sebuah kenangan. Dan inilah karakter khas Ramadhan, selalu menciptakan kenangan-kenangan. Ini pula yang membuat Ramadhan selalu dirindukan.

5. Mesra dalam Tadarus Al-Quran.

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Bulan yang seharusnya menuntut kita semua untuk lebih dekat pada Al-Quran. Memenuhi kewajiban-kewajiban kita terhadap Al-Qur’an. Mulai dari membaca, menghafal, mentadabburi dan lebih-lebih mengamalkan dan mengajarkan (mendakwahkan) isi kandungan Al-Quran. Kerja-kerja semacam ini membutuhkan kesungguhan dan semangat yang berlebih. Apalagi saat terik mentari membakar dan raga dipenuhi letih. Nyaris Al-Quran menjadi jarang tersentuh. Maka disinilah peluang baru tercipta. Kesempatan emas untuk mendulang pahala sekaligus meraih mesra. Setiap pasangan tampil untuk menyemangati yang lainnya. Saling mengingatkan tentang sebuah keutamaan. Bahwa Ramadhan begitu mahal untuk terlewatkan begitu saja. Mulailah dengan tadarus. Tilawah bersama secara bergantian sebulan penuh. Target khatam sekali sebulan akan menjadi lebih ringan Insya Allah.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Ia (Jibril) mendatangi beliau (Rasulullah SAW) setiap malam di bulan Ramadhon, dan mengajarkannya pada beliau Al-Quran (tadarus ) (HR Bukhori),

6. Sepuluh Hari yang Menentukan

Dari Aisyah ra, ia berkata : adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam, membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (HR Bukhori dan Muslim)
Melepas Ramadhan biasanya diliputi kesedihan. Namun jangan sampai kesedihan ini berbuah kemalasan. Karena sedih dalam arti menyesal dan menangis tidak banyak menghasilkan pahala. Melepas Ramadhan justru dengan semangat yang berlipat ganda untuk mengejar pahala. Ada lalilatul qadar award yang senantiasa membayang dalam impian kita. Perburuan malam seribu bulan itu akan lebih semangat jika dilakukan bersama-sama. Saling berlomba dan saling mengingatkan. Baik di rumah ataupun saat itikaf di masjid. Rasulullah telah mencontohkan. Beliau membangunkan istrinya untuk bersama-sama mengejar kemuliaan. Ini memang bukan saatnya egois untuk memesan rumah di surga sendirian. Sementara lahan kosong di surga begitu luas terbentang. Wallahu a’lam.


sumber : http://www.indonesiaoptimis.com/2010/08/agar-tetap-mesra-saat-berpuasa.html



Dikirim pada 27 Agustus 2010 di Uncategories


Assalamualaikum wr. Wb.

Pak ustadz yang saya hormati, setiap manusia yang telah meninggal dunia di kalangan umat kalau hendak menyebut namanya, sering kita dengar di masyarakat menyertai kata almarhum/almarhumah. Memang pada hakikatnya manusia itu tidak mati melainkan pindah kehidupan.

Pertanyaan:

1. Darimana dasar penyebutan kata tersebut, pernahkah dianjurkan rasulullah saw tidak? Dan bagaimana kalau kita tidak menyebutkan kata tersebut? Apa hukumnya?

2. Kenapa setiap kita menyebut nama rasulullah saw tidak pernah menyebutnya almarhum?

Mohon penjelasannya pak ustad.

Wassalam.

Jawaban

Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Penggunaan istilah almarhum bukan merupakan ketetapan dari Rasulullah SAW. Tetapi merupakan sebuah kebiasaan yang juga tidak terlarang.

Secara bahasa, almarhum adalah bentuk isim maf’ul dari kata rahima yarhamu. Rahima artinya memberi kasih sayang, atau menyayangi. Kata almarhum berartiorang yang disayangi. Disayang Allah maksudnya mungkin.Karena Allah sayang kepadanya, maka Allah SWT memanggilnya ’pulang’ ke rahmatullah.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya penggunaan istilah ’almarhum’ ini agak unik. Selain hanya bersifat lokal, juga jarang digunakan di masa lalu, atau untuk orang yang hidup di masa lalu yang panjang.

Setidaknya, tidak semua orang yang sudah meninggal dunia dipanggil dengan sebutan ini. Umumya hanya orang-orang yang pernah hidup bersama kita yang kita panggil dengan sebutan itu. Misalnya, kami dahulu punya orang tua yang kini sudah wafat, maka ketika menyebut namanya, kami biasa menggunakan istilah almarhum sebelum menyebut namanya.

Namun ada jutaan orang lain yang telah wafat, tetapi kita tidak pernah mengenalnya semasa hidupnya, kecuali lewat buku sejarah, maka biasanya kita tidak menambahkan panggilan almarhum di depan namanya. Kita tidak pernah menyebut ’almarhum Pangeran Diponegoro’, atau ’almarhum Tengku Umar’, atau ’almarhumah Tjoet Nja’ Dhien’. Sebab mereka tidak pernah hidup bersama kita. Ada jarak waktu yang jauh memisahkan kita.

Kita juga tidak pernah menyebut ’almarhum imam Bukhari, atau ’almarhum imam Muslim’, atau ’almarhum imam Syafi’i’. Sebagaimana kita juga tidak lazim memanggil dengan sebutan ’almarhum Abu Bakar’, atau ’almarhum Umar’, atau ’almarhum Ustman’ atau ’almarhum Ali’.

Bukannya terlarang, namun hanya tidak lazim. Terdengar ’not usual’ di telinga. Maka tidak pernah ada yang menyebut nama nabi Muhammad SAW dengan sebutan almarhum di depan nama beliau. ’Almarhum nabi Muhammad’(?), ah sepertinya sebuah sebutan yang ’aneh’ terdengar di telinga.

Mungkin sebagaimana panggilan ’pak haji’ yang hanya lazim untuk masa dan komunitas tertentu saja. Apakah anda pernah dengan nama Haji Muhammad SAW? Pasti belum pernah, bukan? Walaupun beliau SAW sudah pernah pergi haji, bahkan beliau adalah orang yang mengajarkan tata cara manasik haji pertama kali. Di mana semua orang harus mengikuti tata cara berhaji dari beliau.

Sebutan ’pak haji’ mungkin hanya ada di negeri kita saja, atau setidaknya, di negeri jiran Malaysia. Di negeri Arab sendiri, panggilan ’pak haji’ cukup membuat dahi orang yang disebut namanya berkerut 10 lipatan. Aneh bin ajaib alias tidak lazim. Sebagaimana tidak lazimnya panggilan ’almarhum Nabi Muhammad SAW’.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

warnaislam.com

Dikirim pada 23 Agustus 2010 di Uncategories

"De’... de’... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.



Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putrid hari ini cuma memandangku.



Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.



"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.



Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku.. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.



"Selamat ulang tahun ya De’..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut. Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.



"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.



Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.



"Jelek ya de’? Maaf ya de’... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’..." desahnya.



Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.



"A’ lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede’," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.



Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.



Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .



FIKSI

Oleh; Ust Anis matta

Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

Asik! Cihuy! Dapet jatah nulis lagi di buletin gaulislam tercinta (maklum lho, ada 9 penulis (termasuk gue) di buletin ini, tiga di antaranya adalah penulis senior: Kang O. Solihin, Mbak Ria Fariana, dan Mbak Nafiisah FB). Gue rada-rada gimana gitu kalo diminta nulis. Tapi, ini kesempatan berharga, Bro! Siapa tahu gue bisa jadi penulis terkenal kayak mereka itu. Hehehe…



Di tengah kesibukan sehari-hari, berkelana kemana-mana cari lowongan kerja baru, huft! Ternyata sesulit membalikkan telapak kaki gajah! Tiap Senin keliling Bogor nyebar buletin gaulislam ke sekolah-sekolah kalian sambil cari inspirasi tapi konsentrasi kabur-kaburan terus hehe.. Lho kok malah cerita kegiatan gue? Sori en asikkin aja dah!



Oke deh, dan akhirnya dapet juga inspirasi buat nulis, memang betul-betul banget (lebay : mode on). Inspirasi bisa dapet dari mana aja bisa dapet pas lagi diem di kamar apa lagi di kamar kecil, ngak usah pake semedi tujuh hari tujuh malam di gua atau kuburan atau nginep di rumahnya Ki Joko Stupid, eh Ki Joko Bodo.



Malam ini gue lagi di warnet en lumayan rame. Suara-suara bising motor, mobil odong-odong (baca: angkutan umum plat hitam) yang berseliweran di jalan setia menemani..Oya, karena harus berbagi tempat dengan user lainnya di warnet, maka kedua kaki wajib dilipat alias bersila. Masalahnya, kalo terlalu lama bisa pegel dengkul ini, hadeu! (maklum gue ngetik di rental komputer yang lesehan)



Kawan-kawan gaulislam yang gue cintai! (jiaah masih aja sempet-sempet ngegombal? Wataw!!) Terus baca ya! To the point aja, kalian suka perhatiin kondisi anak muda zaman sekarang kan? (termasuk kalian juga—dan gue tentunya, hehe..) Coba deh cek en observasi di daerah terdekat. Hitung seberapa banyak anak muda yang aktif di pengajian? Jarang kita temui anak muda yang kritis terhadap agamanya. Waduh, kalo begini terus gimana bisa berdakwah? Huft!



Gue denger juga ada yang nyeletuk “Duh nggak usah repot-repot peduli sama gue, yang penting gue nggak nyusahin orang lain kok!” Malah pernah ada cewek yang ditanya: “Kenapa kamu nggak pake kerudung. Padahal kan kamu tahu perempuan seumur kamu wajib menutupi aurat?” Eh, dia bilang: “Aku nggak munafik kayak cewek-cewek yang pake kerudung itu. Padahal hatinya busuk. Aku sih ada apanya, eh apa adanya sesuai dengan kata hati. Nantilah kalo udah tobat baru pake..Slow ajah ah mumpung masih muda hehe..”. Halah… amit-amit gue!



Bro end Sis! Perempuan berkerudung belum tentu hatinya juga ‘berkerudung’ alias alim. Tapi kalo terus-terusan ngikutin kata hati dan hawa nafsu dijamin nggak bakalan ada usaha untuk jadi lebih baik. Gue belum jadi orang tua aja udah pusing duluan kalau-kalau nanti punya anak tantangan untuk mendidiknya pasti berat cuy. Hwach nggak kebayang! Sistem kapitalisme udah bener-bener meracuni anak bangsa! “Asal hati senang urusan yang lain what ever lah!” Musibah deh…



Bekal buat akhirat



Sobat muda muslim, jelas kita nggak dilarang buat ngejar urusan duniawi tapi kita juga wajib menomor satukan masalah akhirat. Yup, kita wajib nabung pahala. Beramal sholeh di dunia buat di akhirat kelak. Mumpung masih muda isi kegiatan sehari-hari dengan hal-hal yang positif dan syar’i, betul?



Oya, di luar kegiatan sekolah pasti kamu punya banyak agenda. Mulai dari kursus atau ikutan bimbingan belajar, les musrik, ech musik, latihan band, olah raga dll. Kegiatan tersebut sah-sah aja dilakukan selama ngikut tuntunan syariat Islam dan nggak nyita waktu, plus bermanfaat untuk masa depan kalian (buset, banyak amat syaratnya).



Tentu bukan kegiatan miskin manfaat macam pulang sekolah terus nongkrong seharian di warung atau di depan gedung bioskop ngobrol ini itu pura-pura nunggu film dimulai. Padahal nggak nonton sama sekali. Hehe pengalaman gue ini. Hus-hus yang ini jangan dicontoh!



Jangan sampe pula kamu seharian di depan komputer en mantengin situs jejaring sosial macam facebook. Terus update statusnya yang tulisannya pake bahasa plat nomer alias nulis kata-kata dicampur pake angka. Huhu, bikin orang lain pusing bacanya. Oya, nggak baik juyga kalo sampe terus-terusan main game online. Facebook-an nggak ada salahnya tergantung kita memanfaatinnya. Contoh yang baik nih ya kalian update status dengan nasihat-nasihat yang berguna atau tulis terjemahan ayat al-Quran atau hadist untuk saling mengingatkan dalam kebaikan keren dah pastinya. Ok?



Memanfaatkan waktu



Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS adz-Dzariyat [51]: 56)



Pernah nggak membandingkan waktu kegiatan untuk hal duniawi dengan waktu buat akhirat? Lebih banyak mana hayo? Contohnya nih, kita melaksanakan sholat fardu rata-rata butuh waktu hanya 5-10 menit. Itu juga kadang suka males-malesan apalagi sholat subuh. Terus tinggal dikurangin 24 jam (jumlah waktu dalam sehari). Nah sisanya kita ngapain aja—selain tidur dan sekolah?



Sudah semestinya (ciee.. gue jadi tua gini), kita yang masih muda harus mengisi kehidupan ini dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Betul? Jangan punya prinsip “mumpung masih muda seneng-seneng aja dulu, tobatnya belakanganlah kalau sudah tua”. Waduh, emangnya kamu tahu kapan datang ajalmu?



Bukan nggak boleh senang-senang dalam hidup. Silakan aja. Tentu dengan tujuan rekrasi atau me-refresh pikiran dan tetap dalam koridor syariat Islam. Ok?



Bro en Sis pembaca setia gaulislam, kita wajib memanfaatkan waktu hidup kita dengan amalan-amalan sholeh agar tidak menyesal dan merugi nantinya. Sesuai dengan firman Allah Swt. (yang artinya): “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS al-Ashr [103]: 1-3)



Terus, bagaimana caranya supaya waktu kita bisa bermanfaat dan ngak sia-sia? Nih sedikit advice yang bisa kalian lakukan. Pertama, mulailah setiap pagi dengan berdzikir kepada Allah, niatkan semua hal yang akan kita lakukan semata hanya untuk beribadah kepadaNya. Bukan untuk yang lain.



Kedua, jadwalkan semua kegiatan kita pada hari ini dengan jelas. Begitu ada waktu luang, segera isi dengan kegiatan bermanfaat, contohnya membaca buku, menkhatamkan al-Quran, membaca kitab, baca gaulislam (ehm..), dan lain sebagainya. Ketiga, manfaatkan dengan baik waktu yang memiliki keistimewaan, misalnya pada sepertiga malam kamu bisa bangun dan melaksankan sholat malam.[...]



ARTIKEL INI BISA DIBACA SECARA LENGKAP DI WEBSITE KAMI. SILAKAN KLIK: http://www.gaulislam.com/manfaatkan-waktu-hidupmu



Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

Terheran-heran. Tapi itulah kenyataan. Seseorang – yang mungkin dengan mudahnya – melepas jilbabnya dan merasa enjoy mempertontonkan kecantikannya. Entah dengan alasan apa, kepuasan pribadi, materi dunia, popularitas yang semuanya berujung pada satu hal, yaitu hawa nafsu yang tak terbelenggu.



Padahal… nun di surga sana, terdapat makhluk yang begitu cantik yang belum pernah seorang pun melihat ada makhluk secantik itu. Dan mereka sangat pemalu dan terjaga sehingga kecantikan mereka hanya dinikmati oleh suami-suami mereka di surga.



Berikut ini adalah kumpulan ayat dan hadits yang menceritakan tentang para bidadari surga.



Harumnya Bidadari



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Kecantikan Fisik



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)



كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ



“Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54)



Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yang sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.



Al-Hasan berpendapat bahwa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.



Sopan dan Pemalu



Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:



“Di dalam surga, terdapat bidadari-bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan biadadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58)



“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shaffat: 48)



“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.”



Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa pandangan para bidadari surgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.



Putihnya Bidadari



Allah Ta’ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rahman: 58)



al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari surga itu sebening yaqut dan seputih marjan.



Allah juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rahman: 72)



Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.



Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di surga. Karena bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan bisa membayangkan sesuai rupa aslinya, karena sesuatu yang berada di surga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini.



Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh pikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Setelah mengetahui sifat fisik dan akhlak bidadari, maka bukan berarti bidadari lebih baik daripada wanita surga. Sesungguhnya wanita-wanita surga memiliki keutamaan yang sedemikian besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits,



“Sungguh tutup kepala salah seorang wanita surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Dan lagi, seorang manusia telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik rupa,



“Dan manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik rupa.” (Qs. At-Tiin: 4)



Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”



Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”



Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”



Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)



Subhanallah. Betapa indahnya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebuah perkataan yang seharusnya membuat kita, wanita dunia, menjadi lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk menjadi wanita shalihah. Berusaha untuk menjadi sebaik-baik perhiasan. Berusaha dengan lebih keras untuk bisa menjadi wanita penghuni surga..



Nah, tinggal lagi, apakah kita mau berusaha menjadi salah satu dari wanita penghuni surga?



Maraji’:

Mukhtashor Hadil al-Arwah ila Bilad al-Afrah (Tamasya ke Surga) (terj), Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah.



***



Artikel muslimah.or.id

Penulis: Ummu Ziyad Fransiska Mustikawati dan Ummu Rumman Siti Fatimah

Muroja’ah: Ust. Aris Munandar



Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

Beginilah kondisinya sekarang, kata kebanyakan orang dia sedang jatuh hati, hatinya sedang terjatuh, dan selalu berharap terjatuh pada tangkapan si bunga pemekar hati. Apapun yang dilihatnya dan apapun yang didengarnya, semuanya selalu mengingatkannya pada bunga itu. Segalanya terasa manis dan romantis, bahkan kini semangat merah saga pun telah menjadi merah jambu.



Kembali dia bersandar pada tiang itu, kembali senyumnya merekah tak karuan. Dia rogoh kantong celananya untuk menggenggam dan mengambil sebuah produk teknologi, handphone. Hatinya mulai berdegup kencang, untuk kelima kalinya dalam jangka waktu 10 menit ia buka inbox handphone-nya, tertuju pada sebuah pesan, singkat isinya, hanya 3 karakter, ‘jzk’. Ah.. Luar biasa rasanya membaca pesan itu, hampir saja angan lepas dari akalnya. Memang, bukan isinya yang singkat yang membuat hatinya berdegup tak karuan, tapi lihatlah siapa yang mengirimkan pesan itu, dia..



Masih terpaku pada lamunan dan senyumnya. Tiga huruf itu seolah membius dan mengisnpirasi senyumnya. Hilanglah beban yang sedari pagi terus bergantung di pundaknya, semuanya terasa begitu ringan. Pesan singkat itu hadir bak fajar yang menyibak langit malam, kini lebih indah dan terang, manis dan romantis..



Mengalir lembut, sebuah kibasan angin baru saja menyadarkannya dari sebuah lamunan angan, sejenak mengembalikan akalnya. Benar saja, hanya sejenak akalnya kembali, menolehlah kepalanya pada sumber angin itu. Ahh.. berdesir-desir hatinya, kain panjang nan cantik itu sumbernya, secantik perempuan yang mengenakannya. Penutup kepala itu ternyata sumbernya, dan dia si pengirim pesanlah pengenanya. Larian kecil si pengirim pesan itu menciptakan angin yang mendesirkan hatinya.



Semakin panjang saja lamunannya dan semakin tak karuan saja senyumnya hingga sebuah tepukan dari seorang saudara menyadarkannya. “Gak tilawah Bro? Lumayan sambil nunggu Ashar..”



“Oh iya, lumayan sambil nunggu Ashar..”, tergugup ia menyikapi tepukan saudaranya.



Dia ambil mushaf dari tasnya, teringat targetnya hari ini belum terpenuhi. Baru saja semalam ia selesai pada surat an-Naas dan khatam. Kini dia buka lagi mushafnya dari awal, surat al-Faatihah terlewati dengan mudah, maklum sudah hafal semenjak balita. Berlanjut pada surat berikutnya, “Alif Laam Miim..”, ayat pertama ini pun terlewati dengan mudah, bahkan sangat mudah, dan benar-benar terlalu mudah hingga ia pun terhenti pada ayat itu.



Tiba-tiba bibirnya kelu, tak ingin ia melanjutkan bacaannya, hatinya seperti teriris, seperti sedang terjadi persilatan di sana. Al-Faatihah dan 3 huruf pertama surat berikutnya sangat fasih dia baca hingga semuanya menjadi terlewatkan begitu saja. Bacaannya terasa biasa saja, tak ada yang spesial, lebih biasa dari ketika ia membaca berita pengabulan judicial review UU BHP di sebuah surat kabar, tak ada getaran sama sekali di hatinya. Teringat kembali pesan istimewa pada inbox handphone-nya, pesan singkat yang hanya terdiri dari 3 huruf, begitu menggetarkan hatinya, tapi mengapa tidak dengan pesan 3 huruf pada surat terpanjang dalam mushafnya?



Dia mencoba mengulang bacaannya, “Alif Laam Miim..”, tak bergetar. Sekali lagi dia mengulanginya, masih tak bergetar. Sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi, tak ada yang berubah, masih tak bergetar. Melembab matanya dan membesar hidungnya, ingin rasanya menangis, ingin saja ia carikan sebuah alat tremor untuk ditempelkan di dadanya, agar bergetarlah hatinya, tapi itu sungguh terasa bodoh.



Keras ia genggam tangannya sendiri, berharap hatinya bergetar, berharap tangisnya tak keluar. Ia pandangi dalam-dalam mushafnya, mencari inspirasi di sana, berharap menemukan sebuah tremor. Getaran itu tak kunjung datang, dan tangis itu pun masih coba ia tahan hingga adzan pun berkumandang. Tertunduk kepalanya, pandangannya terarah ke mushafnya, tapi kosong, pandangannya kosong.



Tak tertahan, tangisnya pun lahir melalui dua matanya, butir-butir itu jatuh membasahi mushafnya, memburamkan huruf-huruf di dalamnya. Sesenggukkan nafas dan tangisnya di antara adzan yang masih terus menggema. Semakin keras adzan berkumandang dan semakin keras genggaman tangannya..



Sebuah tepukan kedua dari saudaranya, “Subhanallah akhi, ana belum pernah melihat antum tilawah se-khusyuk ini..”, tangisnya pun semakin dalam..



Batinnya hanya satu, tapi kemelut itu benar-benar terjadi, seolah ada yang sedang saling membunuh. Tak ingin rasa ini dimenangkan oleh seorang makhluk, tapi bukankah rasa ini adalah sebuah fitrah? Tapi beginikah sebuah fitrah? Mengapa fitrah ini hampir membunuh fitrah yang lain? Sebuah fitrah cinta yang seharusnya lebih suci dan mulia..



*cerita ini hanya fiktif belaka



Oleh Topan Bayu Kusuma



Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

“….Dan tiada henti-hentinya mereka selalu memerangi kalian sehingga kalian murtad dari agama kalian, jika mereka mampu…” (Al Baqarah [2] : 217).

Sungguh sangat menggembirakan dan membesarkan hati kita bahwa ternyata ummat Islam di Indonesia merupakan ummat mayoritas (85%). Bahkan pertumbuhannya di dunia internasional juga cukup pesat. Dari lima milyar lebih, seperlimanya adalah umat Islam. Akan tetapi, dari jumlah yang besar tersebut sedikit sekali yang kita dapati benar-benar menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Banyak yang masih salah dalam mempersepsikan ajaran Islam yang syamil tersebut. Sering kita dapati pemilah-milahan ajaran Islam, antara urusan agama dengan urusan ekonomi, budaya, politik, ataupun sisi kehidupan yang lain.

Sebagai akibatnya dari pemahaman yang demikian akan menimbulkan kerancuan dalam berpikir dan bertindak. Di satu sisi ia sebagai seorang muslim, namun di sisi lain, aktivitasnya dalam bidang ekonomi, budaya maupun politik jauh dari ajaran Islam. Sehingga karena keadaan yang demikian itulah banyak orang Islam yang masih mudah tergiur oleh paham lain.

Empat belas abad yang lalu, di saat Islam mencapai puncaknya, Rasulullah SAW telah memprediksikan tentang nasib ummat Islam di masa yang akan datang, sebagai tanda nubuwwah beliau. Nasib ummat Islam pada masa itu digambarkan oleh Rasulullah seperti seonggok makanan yang diperebutkan oleh sekelompok manusia yang lapar lagi rakus.

Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits:

“Beberapa kelompok manusia akan memperebutkan kalian seperti halnya orang-orang rakus yang memperebutkan hidangan.”

Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami waktu itu sedikit, ya Rasulullah?”.

Jawab Rasul : “Tidak! Bahkan waktu itu jumlah kalian sangat banyak. Akan tetapi kalian waktu itu seperti buih lautan. Dan sungguh, rasa takut dan gentar telah hilang dari dada musuh kalian. Dan bercokollah dalam dada kalian penyakit wahn”.

Kemudian sahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan penyakit wahn itu ya Rasulullah?”.

Jawab beliau : “Cinta dunia dan takut mati”.

Kita bisa membayangkan bagaimana nasib seonggok makanan yang menjadi sasaran perebutan dari orang-orang kelaparan yang rakus. Tentu saja dalam sekejap mata makanan yang tadinya begitu menarik menjadi hancur berantakan tak berbekas, lumat ditelan para pemangsanya.

Demikian pula dengan kondisi ummat Islam saat ini. Ummat Islam menjadi bahan perebutan dari sekian banyak kepentingan yang apabila kita kaji lebih jauh ternyata tujuan akhirnya adalah sama, kehancuran ummat Islam !



Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

Sesungguhnya ada banyak momen dalam kehidupan kita yang bersifat perselisihan dan ketidaksamaan. Karena memang begitulah hidup. Terdiri dari beragam sifat, yang terhimpun dalam satu peristiwa, karenanya tak mungkin memaksakan kehendak untuk sama.



Pada banyak peristiwa itu, peran yang seharusnya dimainkan oleh manusia adalah tidak menjadikan kerikil menjadi sebuah batu besar, apalagi membuatnya nampak seperti gunung. Perselisihan kecil, tak perlu dibesar-besarkan. Perbedaan besar, jangan pula diapi-api sehingga membakar.



Tapi kadang, kita memang sering tergoda untuk berlebihan. Saya sendiri sering terjebak dan lalai, melakukannya. Syukurnya, setiap kali saya melakukannya, masih sempat beristighfar memperbaiki kesalahan.



Misalnya, memperbesar masalah ketika saat menunaikan puasa sunnah. Tidak menemukan makanan di rumah saat berbuka. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar remeh, kecil, tapi kemudian diperbesar, diperlebar, diperpanjang. Kenapa tidak ada makanan? Apa yang menjadikan tidak sempat memasak? Apakah tidak memperhatikan? Begitulah.



Seketika saya teringat perilaku Rasulullah, yang tak pernah memperbesar masalah-masalah kecil, yang memang semestinya tak menjadi besar. Misalnya, ketika waktu dhuha Rasulullah bertanya tentang makanan apa yang ada, tapi tak ada makanan untuk hari itu. Dengan ringan, Rasulullah, manusia lembut pekerti dan berbudi tinggi itu berkata, ”Kalau begitu, hari ini aku puasa.”



Duhai, siapa yang tak rindu dan tak ingin menjadikan perilaku beliau sebagai uswah hasanah? Seringkali saya merasa ngilu di ulu hati, karena malu campur sedih. Padahal, saya sadar betul, betapa menyenangkan hasilnya, ketika kita tidak terjebak memperbesar masalah. Dasar manusia!



Pernah Rasulullah bertamu ke rumah salah seorang shahabiyah yang bernama Ummu Hanik bin Abu Thalib yang terhitung masih kerabat beliau. Dan kebetulan, beliau dalam keadaan lapar juga waktu itu. ”Apakah engkau mempunyai makanan yang bisa dimakan?”



”Saya tidak memiliki makanan kecuali serpihan roti kering. Saya malu menghidangkannya untukmu, ya Rasulullah,” kata Ummu Hanik.



”Ayo, bawa kemari,” kata Rasulullah bersemangat, seolah-olah itu adalah hidangan yang mewah. Kemudian Ummu Hanik membawa serpihan roti, lalu Rasulullah memakannya dengan campuran air. Ummu Hanik menaburkan sedikit garam di atasnya, agar menambah sedikit rasa.



”Apakah ada lauk?” tanya Rasulullah lagi. Ummu Hanik mengatakan, bahwa tak ada lauk, hanya ada cuka saja.



”Alhamdulillah, sebaik-baknya lauk adalah cuka,” lalu Rasulullah melanjutkan makanan seolah-olah menghadapi hidangan istimewa. Beliau membaca hamdalah, menunjukkan rasa syukur yang hebat. Membesarkan hati sang tuan rumah. Bersyukur atas karunia. Dan semuanya terasa penuh berkah. Kisah ini ada dalam riwayat ath Thabrani dan juga shahih Bukhari-Muslim. Allahu akbar!



Saya tak ingin membicarakan orang lain. Saya justru ingin membicarakan diri saya sendiri. Sungguh, betapa banyak dalam peristiwa hidup ini, saya kerap memperbesar masalah yang sebetulnya sunguh-sungguh kecil. Dan sebaliknya, saya sering tak memandang anugerah kecil sebagai peristiwa-peristiwa besar.



Dua kisah di atas, saya tulis dengan tujuan besar mengingatkan diri saya sendiri, untuk tak terlalu memperbesar masalah-masalah yang seharusnya kita kecilkan. Dan semestinya membangun perasaan dan cara pandang, tentang anugerah-anugerah kecil sebagai rezeki yang luar biasa besar.



Tutupilah kekurangan-kekurangan, karena memang kekurangan dan kesalahan tak habisnya dan selalu muncul serta berulang. Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan kurang. Jangan suka mencari-cari kesalahan, karena memang, kesalahan akan ditemukan jika dicari, dan dia pasti akan datang, bahkan tanpa diundang.



Ridha pada yang kecil. Syukur atas yang besar. Tutupi kesalahan, lengkapi kekurangan. Tak ada yang sempurna, dan jika itu membuat kita tersiksa, ada yang salah dengan sikap kita. Semoga Allah mengganti dengan segala kebaikan, atas kesabaran dan keridhaan yang telah kita lakukan pada semua kekurangan kecil yang tak penting. Nikmatilah hidup, jangan cengeng pada hal-hal yang enteng.



(Ust. Herry Nurdi)



Dikirim pada 28 Mei 2010 di Uncategories

Tidak perlu detektor canggih untuk mengetahui jika kekasih Anda sedang berbohong atau tidak. Cukup perhatikan gerak-geriknya seperti yang disarankan Cosmopolitan berikut ini. Dan bagi para pembohong, Anda juga wajib membaca agar bisa memberi gaya tubuh yang lebih terpercaya saat sedang mengarang cerita nanti!



1) Ke atas dan ke kiri

Coba perhatikan bagaimana bahasa tubuh si dia saat akan menjawab pertanyaan Anda. Jika matanya bergerak ke kanan, ia sedang berusaha mengingat-ingat kejadian. Tapi jika ia melihat ke atas lalu ke kiri, ia sedang mengarang jawaban yang pas.



2) Bermain hidung dan telinga

Sudah jelas, ia tidak punya alergi apa-apa. Tapi si dia terus-menerus memainkan telinga dan hidung. Mungkin ia sedang alergi bohong! Saat sedang berbohong, darah akan mengalir lebih banyak pada wajah, membuat hidung dan telinga terasa lebih hangat dan menjadi gatal.



3) Geser ke kiri, geser ke kanan

Miungkin ia hanya sekadar gugup saat menggeser-geser kursi atau mengetukkan jemari. Tapi sebagai seseorang yang curiga, bisa saja kegugupan ini terjadi karena si dia sedang berbohong.



4) Tutup mulut!

Saat seseorang sedang berusaha menghalau kebenaran keluar dari mulut, secara tak sadar ia akan menghala